BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) melanjutkan tren melemah pada perdagangan akhir pekan, Jumat (5/6/2026).
Saham-saham unggulan masih mengalami tekanan jual, terutama PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), yang terpangkas lebih dari 5% pada sesi I perdagangan hari ini.
Pada awal sesi I perdagangan saham hari ini, IHSG dibuka menguat 0,11% atau 6,71 poin ke level 5.846,49. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 0,24% atau 1,38 poin ke posisi 579,54.
Pergerakan IHSG perlahan berbalik arah ke zona merah hingga ditutup terkoreksi 2,53% atau 147,62 poin ke level 5.692 pada akhir sesi I perdagangan hari ini.
Selama 3 jam perdagangan saham berlangsung, IHSG lebih banyak bergerak di zona merah, terpantau sempat menyentuh level tertinggi di 5.860, dana level terendah 5.673.
Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 588 saham turun harga, 111 saham naik harga, dan 109 saham tidak mengalami perubahan harga atau stagnan selama sesi I perdagangan.
Adapun volume saham ayang ditransaksikan mencapai 25,257 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.322.798 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp21,088 triliun.
Perkembangan perundingan damai Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik Timur Tengah yang masih kabur, membuat investor cenderung menghindar dari pasar keuangan emerging market termasuk Indonesia.
Meskipun Presiden AS, Donald Trump, menyatakan tetap menghormati kesepakatan gencatan senjata, dan segera mencapai kesepakatan perdamaian dengan Iran, investor tetap mencermati eskalasi konflik yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Bahkan penurunan tajam harga minyak dunia, tak juga menjadi sentimen positif untuk mendongkrak IHSG. Pada perdagangan hari ini, harga minyak mentah jenis Brent tercatat berada di level US$95,62 per barel, sedangkan jenis WTI di level US$93,30 per barel.
Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati rilis APBN KiTa edisi Juni 2026, yang akan memaparkan kinerja fiskal, termasuk defisit APBN per Mei 2026.
Sejumlah kalangan menilai defisit APBN akan semakin melebar, seiring pelemahan rupiah terhadap dolar AS, yang menyebabkan kenaikan harga minyak dunia, dan menambah beban subsidi energi.
Hal ini, yang membuat tekanan jual terus dilancarkan investor, terutama untuk saham-saham unggulan atau berkapitalisasi ebsar (big caps) di BEI.
Saham 4 bank besar masih mengalami tekanan jual, dengan penurunan tertinggi pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
Hingga akhir sesi I perdagangan hari ini, harga saham BBCA terpantau anjlok 5,53% atau Rp300 menjadi Rp5.125 per lembar, sedangkan harga BBNI terkoreksi 4,09% atau Rp140 menjadi Rp3.280 per lembar.
Sementara harga saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 2,52% atau Rp100 menjadi Rp3.870 per lembar, dan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 2,14% atau Rp60 menjadi Rp2.750 per lembar.
Penurunan tajam juga terjadi pada saham sektor energi, terutama minyak dan gas. Salah satunya harga saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) terpangkas hingga 10,17% atau Rp175 menjadi Rp1.545 per lembar.
Untuk perdagangan hari ini, IHSG diprediksi masih berada dalam tren melemah, bergerak variatif di kisaran level support 5.600 dan level resistance 5.800. (jea)


