BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah masih melemah di kisaran Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), pada perdagangan akhir pekan, Jumat (5/6/2026), seiring sorotan pelaku pasar terhadap Rilis APBN KiTa hari ini.
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, kurs rupiah dibuka melemah 0,09% atau 17 poin menjadi Rp18.066 per dolar AS dibandingkan level sebelumnya di level Rp18.049 per dolar AS.
Pelemahan rupiah Jisdor perlahan terkikis, namun tetap bertahan di level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Hingga pukul 11:30 WIB, nilai tukar rupiah Jisdor terpantau berada di level Rp17.039 per dolar AS.
Sementara di pasar spot, kurs rupiah hari ini dibuka melemah 0,23%, ke level Rp18.074 per dolar AS. Hal itu, menandai pelemahan rupiah sebesar 1,03% sepanjang pekan ini.
Pergerakan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi perkembangan konflik Timur Tengah, seiring belum jelasnya hasil perundingan damai antara AS dan Iran.
Presiden AS, Donald Trump, mengatakan negosiasi perdamaian telah memasuki tahap akhir, sementara Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan belum ada kemajuan nyata yang berhasil dicapai.
Kesepakatan mengenai gencatan senjata pun belum pasti. Pasalnya, Kelompok Hisbullah, yang didukung Iran menolak kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon, yang dimediasi AS.
Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati rilis APBN KiTa edisi Juni 2026, yang akan dipublikasikan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pada hari ini.
Data APBN KiTa akan memaparkan kinerja fiskal dan posisi APBN per Mei 2026. Selain itu, akan diketahui besaran defisit anggaran yang terjadi.
Seperti diketahui, sejumlah lembaga investasi dan keuangan global telah memperingatkan Pemerintah Indonesia, terkait konsistensi kebijakan fiskal di tengah ketidakpastian global, yang menjadi sorotan investor global.
Defisit APBN Indonesia menjadi salah satu data fiskal yang disoroti, termasuk pengelolaan anggaran untuk mengatasi beban subsidi akibat kenaikan harga minyak dunia.
Sebelumnya dalam rilis APBN KiTa edisi Mei 2026, defisit APBN tercatat mencapai Rp164.4 triliun atau 0,64% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Terkait dengan minimnya sentimen positif dari dalam dan luar negeri, pergerakan nilai tukar rupiah diprediksi masih melanjutkan tren melemah di kisaran level Rp18.000 per dolar AS hingga Rp18.080 per dolar AS. (jea)


