Ketegangan AS-Iran Meningkat Picu Kenaikan Harga Minyak

BRIEF.ID – Harga minyak naik  menyusul peningkatan ketegangan terbaru antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, meski  pergerakan kenaikannya  lebih moderat dibandingkan sebelumnya sejak perang berkobar. Sementara itu, saham di bursa Wall Street  sedikit kehilangan momentum setelah reli yang memecahkan rekor.

Indeks S&P 500 turun 0,2% dari level tertinggi sepanjang masa untuk penurunan kedua dalam 14 hari setelah AS menyita kapal kargo berbendera Iran, yang dinilai mencoba menghindari blokade pelabuhan Iran. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 4 poin, atau kurang dari 0,1%, dan indeks Nasdaq Composite turun 0,3%.

Harga minyak mentah Brent per barel, standar internasional, naik 5,6% menjadi $95,48 karena kekhawatiran bahwa Iran dapat terus menahan minyak di Teluk Persia jika terus memblokir kapal tanker untuk keluar dari Selat Hormuz.

Ini merupakan perubahan drastis dari hari perdagangan sebelumnya di Wall Street, ketika saham melonjak dan harga minyak anjlok setelah Iran mengatakan pada hari Jumat bahwa mereka akan membuka kembali selat tersebut untuk lalu lintas komersial. Antusiasme itu dengan cepat lenyap setelah Iran menutup selat itu lagi pada hari Sabtu menyusul keputusan AS untuk melanjutkan blokade pelabuhan Iran.

Batas waktu penting berikutnya akan tiba pada Selasa malam pukul 8 malam waktu Timur, yang merupakan Rabu dini hari waktu Teheran, ketika perjanjian gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan berakhir.

Namun, harga minyak tetap jauh di bawah titik tertinggi yang dicapai sejauh ini dalam perang. Harga minyak mentah Brent sempat naik di atas $119 per barel ketika kekhawatiran mencapai puncaknya. Dan S&P 500 masih di atas level sebelum perang.

Pergerakan yang relatif tenang pada hari Senin menunjukkan bahwa investor masih melihat kemungkinan kesepakatan AS-Iran yang dapat membuat minyak kembali mengalir dari Timur Tengah ke pelanggan di seluruh dunia. Mengakhiri perang akan menguntungkan kedua negara secara ekonomi.

Perusahaan-perusahaan dengan tagihan bahan bakar yang besar mengalami kerugian terbesar di Wall Street menyusul kenaikan harga minyak mentah, seperti yang terjadi sepanjang perang. (Associated Press/nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

El Nino Belangsung Hingga 2027, BMKG Ingatkan Risiko Krisis Air dan Pangan

BRIEF.ID - Memasuki puncak musim kemarau, pemerintah kembali dihadapkan...

Prabowo Minta Warga Tenang Hadapi Aktivitas Gunung Anak Krakatau, Pemerintah Kerahkan Aparat

BRIEF.ID - Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian...

Rupiah Menguat Seiring Cadangan Devisa Agustus 2026 Naik Jadi US$146,5 Miliar

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah menguat terhadap dolar...

Cadangan Devisa Agustus 2026 Naik Jadi US$146,5 Miliar, Pemerintah Tarik Pinjaman LN

BRIEF.ID  - Bank Indonesia (BI) menyampaikan  posisi cadangan devisa...