BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) anjlok ke zona merah, dipicu saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) yang menjadi pemberat.
Pada awal perdagangan hari ini, IHSG sebenarnya dibuka di zona hijau, dengan menguat 0,41% atau 25,99 poin ke level 6.366. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 dibuka naik 0,28% atau naik 1,77 poin ke posisi 638,41.
Meski demikian, IHSG perlahan tertekan, lalu terpuruk ke zona merah. Hingga pukul 13:00 waktu JATS, IHSG terpantau melemah 0,39% atau 24,46 poin ke level 6.315.
Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak variatif, dengan menyentuh level tertinggi di 6.394, dan level terendah 6.297.
Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 366 saham turun harga, 238 saham naik harga, dan 190 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.
Volume saham yang ditransaksikan mencapai 28,932 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.811.687 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp11,238 triliun.
Pelemahan IHSG terutama dipicu aksi ambil untung (profit taking) yang dilancarkan investor. Kenaikan IHSG selama 9 hari terakhir, membuat pelaku pasar mencoba membukukan keuangan dengan melepas saham-saham big caps.
Saham-saham big caps, seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) banyak dilepas investor.
Harga saham TLKM terpantau melemah 2,18% atau Rp60 menjadi Rpo2.690 per lembar, BBCA turun 1,53% atau Rp100 menjadi Rp6.425 per lembar, dan BMRI melorot 1,12% atau Rp50 menjadi Rp4.430 per lembar.
Lonjakan harga minyak dunia, membuat dolar AS tetap perkasa, sehingga pelaku pasar cenderung memasang mode wait and see atau menunggu untuk masuk ke bursa saham negara-negara berkembang (emerging market) termasuk Indonesia.
Sentimen negatif juga datang dari defisit APBN Indonesia yang meningkat per Juni 2025. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, dalam Konferensi Pers APBN KiTa Edisi Juli 2026 di Jakarta, Selasa (21/6/2026), menyampaikan defisit APBN per Juni 2026 mencapai Rp196,5 triliun atau sekitar 0,76% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Defisit APBN per Juni 2026 tersebut, meningkat dibandingkan posisi per Mei 2026, yang mencatatkan defisit sebesar Rp180,4 triliun, atau setara dengan 0,70% dari PDB.
Selain itu, pelaku pasar juga menunggu keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG-BI) terkait suku bunga acuan atau BI-Rate.
Meski pelaku pasar berharap BI masih akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dari 5,75% menjadi 6,00%, sejumlah lembaga dan ekonom memperkirakan RDG-BI akan tetap mempertahankan BI-Rate di level 5,75%.
Untuk perdagangana hari ini, IHSG diprediksi bergerak variatif dengan kecenderungan menguat tipis di kisaran level 6.250 hingga level 6.350. (Jea)


