BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ambruk ke level 6.200 pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (22/9/2026).
Pada akhir perdagangan hari ini, IHSG ditutup terkoreksi 1,69% atau 107,68 poin ke level 6.277. Sebelumnya, pada awal perdagangan, IHSG dibuka menguat tipis 0,12% atau 7,61 ke posisi 6.392.
Sepanjang perdagangan hari ini yang berakhir pada pukul 16:00 waktu JATS, IHSG lebih banyak bergerak di zona merah, dengan menyentuh level tertinggi di 6.423, dan level terendah di 6.258.
Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 533 saham turun harga, 139 saham naik harga, dan 118 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.
Volume saham yang ditransaksikan pada perdagangan hari ini tercatat mencapai 33,717 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 2.161.563, dan nilai transaksi sebesar Rp14,452 triliun.
Saham sektor energi terkoreksi dalam, dipicu kekhawatiran krisis energi global yang meningkat seiring konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina yang kembali memanas.
Rusia dikabarkan sedang mempertimbangkan rencana untuk memperpanjang larangan ekspor solar (diesel) dari batas waktu September 2026.
Sebelumnya pada Juli 2026, Rusia mengumumkan larangan ekspor solar, hingga Agustus 2026, kemudian memperpanjang kembali selama sebulan hingga September 2026.
Kabar mengenai rencana Rusia memperpanjang larangan ekspor solar, meningkatkan kekhawatiran terkait krisis energi global. Pasalnya, pembatasan ekspor diesel dari Rusia semakin memperparah dampak gangguan pasokan minyak dan gas (migas) akibat konflik Timur Tengah.
Hal itu, telah mendorong kenaikan harga solar dunia. Saat ini, harga solar berada di kisaran US$84 per barel di Eropa. Angka tersebut, jauh lebih tinggi dibandingkan US$28 per barel pada akhir Februari 2026, sebelum Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan ke Iran, dan memicu konflik Timur Tengah, yang berujung pada penutupan Selat Hormuz, yang merupakan jalur distribusi utama migas dunia.
Saham sektor energi yang mengalami penurunan harga signifikan antara lain PT Bayan Resources Tbk, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).
Harga saham BYAN terpantau anjlok 9,71% atau Rp1.275 menjadi Rp11.850 per lembar, AALI terkoreksi 5,99% atau Rp500 menjadi Rp7.850 per lembar, PGAS turun 3,00% atau Rp45 menjadi Rp1.455 per lembar.
Selain itu, harga saham sektor keuangan dan properti juga merosot imbas kekhawatiran pelaku pasar terhadap kemungkinan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG-BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate.
Hal itu, dipicu keputusan sejumlah bank sentral negara-negara maju, yang telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis point (Bps) untuk mengendalikan lonjakan inflasi.
RDG-BI berlangsung selama 2 hari, pada 22-23 Septeber 2026. Sejumlah kebijakan moneter akan diputuskan, termasuk kebijakan suku bunga acuan.
Di sektor keuangan, terutama deretan saham 4 bank besar, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun tajam sebesar 3,64% atau Rp120 menjadi Rp3.180 per lembar.
Sementara di sektor properti, beberapa saham yang turun harga cukup besar, antara lain PT Surya Semesta Internusaa Tbk (SSIA), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE).
Harga saham SSIA terkoreksi 4,76% atau Rp80 menjadi Rp1.600 per lembar, SMRA melemah 3,73% atau Rp10 menjadi Rp258 per lembar, dan BSDE anjlok 3,36% atau Rp20 menjadi Rp575 per lembar. (Jea)


