BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan akhir pekan, Jumat (19/6/2026), ditutup menguat tipis ditopang saham-saham barang konsumsi.
Pada akhir perdagangan saham hari ini, sekitar pukul 16:00 waktu JATS, IHSG terpantau ditutup menguat tipis 0,08% atau 4,79 poin ke level 6.177.
Sebelumnya pada awal perdagangan saham hari ini, IHSG dibuka tertekan di zona merah, dengan melemah 0,18% atau 10,88 poin ke posisi 6.161.
Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG lebih banyak bergerak di zona merah, namun berbalik arah menjelang akhir perdagangan, dan ditutup di zona hijau. IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 6.215, dan level terendah di 6.117.
Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 332 saham naik harga, 342 saham turun harga, dan 141 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.
Adapun volume saham yang ditransaksikan tercatat mencapai 32,447 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.750.341 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp26,518 triliun.
IHSG melemah seiring aksi jual yang masih melanda saham-saham Badan Usaha Milik Negara. Meski demikian, saham-saham sektor barang konsumsi yang diburu investor mampu mendongkrak IHSG ke zona hijau.
Saham sektor barang konsumsi yang banyak diburu investor, antara lain PT Sidomulyo Selaras Tbk (SDMU), PT Mayoran Indah Tbk (MYOR), PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM).
Harga SDMU melesat 34,29% atau Rp24 menjadi Rp94 per lembar, MYOR melonjak 14,04% atau Rp245 menjadi Rp1.990 per lembar, MPPA menguat 8,33% atau Rp4 menjadi Rp52 per lembar, dan GGRM naik 5,89% atau Rp925 menjadi Rp16.625 per lembar.
Sementara itu, saham PT Telkom Indonesia Tbk (TKM) menduduki peringkat pertama deretan saham top looser hari ini, dengan melemah 7,19% atau Rp200 menjadi Rp2.580 per lembar.
Sentimen IHSG datang dari hasil kajian Morgan Stanley Capital Internationala (MSCI) yang menilai transparansi pasar modal Indonesia memburuk.
Selain itu, penguatan indeks dolar AS ke level 100,86 seiring keputusan Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) menahan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%, membuat investor menarik modal dari emerging market (negara berkembang).
Indeks dolar AS yang telah menembus level seperti sebelum pecahnya konflik Timur Tengah yang ditandai serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026, membuat mata uang tersebut dinilai menjadi aset teraman (safe haven) di tengah ketidakpastian geopolitik. (jea)


