BRIEF.ID – Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Selasa (21/7/2026), didorong meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan energi global akibat memanasnya konflik di Timur Tengah.
Harga minyak Brent Crude naik US$ 1,79 atau 2,0%, ditutup di US$ 91,01 per barel sementara West Texas Intermediate (WTI) naik US$ 1,68 atau 2,0%, ditutup di US$ 84,91 per barel.
Harga minyak melonjak sekitar 2% dan mencapai level tertinggi dalam lima pekan. Sentimen utama datang dari berlanjutnya pertempuran antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang meningkatkan risiko gangguan produksi maupun distribusi energi dari kawasan Timur Tengah.
Kekhawatiran pasar semakin meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman kembali mengancam kapal-kapal yang melintasi Laut Merah. Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu rute perdagangan minyak paling strategis di dunia yang menghubungkan kawasan Timur Tengah dengan pasar Eropa dan Asia.
Pelaku pasar menilai setiap eskalasi konflik yang mengganggu aktivitas pelayaran di Laut Merah berpotensi memperlambat distribusi minyak mentah dan meningkatkan biaya pengiriman. Kondisi tersebut dapat memperketat pasokan energi global dan mendorong harga minyak terus bergerak naik.
Kenaikan harga minyak juga menjadi perhatian investor karena berpotensi memicu tekanan inflasi di berbagai negara. Biaya energi yang lebih tinggi dapat meningkatkan ongkos produksi dan transportasi, sehingga memperbesar tantangan bagi bank-bank sentral dalam menjaga stabilitas harga.
Analis menilai perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah akan tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga minyak dalam jangka pendek.
Selama konflik antara AS dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda serta ancaman terhadap jalur pelayaran internasional masih berlangsung, volatilitas di pasar energi diperkirakan tetap tinggi. (nov)


