Bursa Wall Street Ditutup Menguat, Saham Chip dan AI Pimpin Reli Pasar

BRIEF.ID – Bursa saham Wall Street, New York, Amerika Serikat (AS), ditutup menguat pada perdagangan Selasa (21/7/2026). Penguatan indeks utama didorong oleh rebound saham-saham produsen chip serta respons positif investor terhadap laporan keuangan sejumlah emiten besar, termasuk 3M dan General Motors.

Indeks S&P 500 naik 0,9%, Dow Jones Industrial Average menguat 385 poin atau 0,7%, sedangkan Nasdaq Composite melonjak 1,3%.

Saham-saham yang terkait  kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kembali menjadi motor penggerak pasar. Kelompok saham tersebut mencatat kenaikan untuk hari kedua berturut-turut setelah mengalami aksi jual tajam pada pekan sebelumnya.

Minimnya agenda rilis data ekonomi menjelang pertemuan Federal Reserve (The Fed) pekan depan, musim laporan keuangan (earning season) kuartal II-2026 menjadi sentimen utama yang menggerakkan pasar saham.

Pelaku pasar kini menantikan laporan keuangan  Alphabet, serta produsen chip Intel dan Texas Instruments, untuk memperoleh gambaran mengenai prospek industri AI. Laporan tersebut dinilai penting di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap tingginya valuasi dan besarnya belanja investasi perusahaan-perusahaan AI.

Di sisi lain, faktor geopolitik masih membayangi pergerakan pasar global. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat, sementara kekhawatiran mengenai perdagangan internasional kembali mencuat setelah pemerintahan Presiden Donald Trump memberlakukan tarif baru terhadap sejumlah produk asal Kanada.

Pemerintah AS juga mengumumkan akan menyelidiki dugaan bahwa model kecerdasan buatan asal Tiongkok dikembangkan dengan mengadaptasi model AI buatan Amerika Serikat. Washington bahkan membuka kemungkinan menjatuhkan sanksi terhadap pihak-pihak yang terbukti melakukan pencurian teknologi AI.

Sentimen geopolitik turut mendorong kenaikan harga energi. Harga minyak dunia melonjak sekitar 2% ke level tertinggi dalam lima pekan akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan di Timur Tengah. Risiko tersebut dipicu oleh memanasnya konflik AS-Iran serta ancaman blokade jalur pelayaran menuju Arab Saudi oleh kelompok Houthi di Yaman.

Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah AS tenor 10 tahun naik lebih dari 3 basis poin menjadi 4,63%, mencerminkan kehati-hatian investor menjelang keputusan kebijakan moneter The Fed.

Sementara itu, harga emas spot turut menguat 1,7% menjadi US$4.071 per troy ons. Kenaikan logam mulia tersebut didorong meningkatnya permintaan aset aman, meski pasar juga mencermati peluang tercapainya kesepakatan diplomatik antara AS dan Iran yang berpotensi menurunkan tekanan harga energi dan memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan mendatang. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Harga Minyak Naik, Konflik AS-Iran dan Ancaman Houthi Picu Kekhawatiran

BRIEF.ID – Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan...

IHSG Diprediksi Menguat Terbatas, Investor Cermati Keputusan BI  

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih...

Piala Dunia 2026 Usai, Ini Hal-hal Menarik Sepanjang Turnamen

BRIEF.ID - Piala Dunia 2026 telah usai, di mana...

DPR Setujui Tambahan Subsidi Pelayaran Perintis Wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar

BRIEF.ID – Komisi V DPR RI dan pemerintah telah...