Harga Minyak Dunia Kembali Tembus US$100 per Barel, Trump Ancam Iran dan Houthi

BRIEF.ID – Harga minyak dunia kembali menembus level US$100 per barrel pada penutupan perdagangan Kamis (23/7/2026) waktu setempat atau Jumat (24/7/2026) dini hari WIB.

Lonjakan harga minyak dunia terjadi seiring ancaman Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang akan melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran dan Kelompok Houthi di Yaman.

Seperti dilansir Reuters, Kamis (23/7/2026), harga minyak dunia jenis Brent naik 7,00% atau US$6,62 menjadi US$100,69 per barrel, yang merupakan level tertinggi sejak 22 Mei 2026.

Sejak serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026, harga minyak mentah jenis Brent, yang menjadi acuan telah melonjak hampir 40%, dengan sebagian besar kenaikan terjadi sepanjang Julo 2026.

Sementara harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) AS naik 6,20% atau US$5,36 menjadi US$92,19 per barrel pada penutupan perdagangan kemarin, yang merupakan level tertinggi sejak 4 Juni 2026.

Kenaikan harga minyak dunia dipicu meningkatnya eskalasi konflik Timur Tengah, seiring ancaman Presiden AS, Donald Trump, kepada Iran dan Kelompok Houthi.

Dalam unggahan di media sosialnya, Trump menyebut AS akan melakukan “hukuman besar” kepada Iran dan Houthi. Dalam wawancara dengan Axios, Trump menyatakan telah mempertimbangkan, dan hampir mencapai keputusan untuk melakukan “serangan besar” terhadap Iran dan Houthi.

Ancaman  disampaikan setelah  kelompok Houthi di Yaman menyatakan telah menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah.

Serangan tersebut, memperburuk gangguan pasokan minyak dunia, yang sebelumnya sudah terjadi akibat terganggunya pelayaran melalui Selat Hormuz.

Sejumlah pengamat menilai ancaman Trump mengarah pada kemungkinan terjadinya perang darat, yang akan semakin meningkatkan eskalasi konflik Timur Tengah.

Kelompok Houthi telah mengumumkan blokade Laut Merah, dan menargetkan kapal-kapal pengangkut minyak Arab Saudi di Selat Bab el-Mandeb.

Hal itu, dikhawatirkan akan mengganggu jalur pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah, karena Iran akan kembali menutup Selat Hormuz sebagai reaksi atas serangan AS.

Dengan kemungkinan perang darat yang terus meningkat, serta lalu lintas kapal tanker yang terbatas di Selat Hormuz maupun Selat Bab el-Mandeb, harga minyak dunia diprediksi akan terus melambung, dan dikawatirkan mendekati rekor tertinggi di level US$126,41 per barel empat tahun lalu.

Sementara Goldman Sachs memperkirakan harga minyak jenis Brent dapat melampaui US$120 per barrel pada kuartal IV 2026, jika gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut.

Pengamat memperkirakan Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb dilalui sekitar seperempat pasokan minyak dunia, sehingga eskalasi konflik Timur Tengah yang meluas akan berdampak pada pasokan ke berbagai negara, dan berpotensi menyebabkan krisis energi global.

Pada pembukaan perdagangan sesi pagi ini,
harga minyak mentah jenis Brent turun 0,72% atau 72 sen menjadi US$99,97 per barel. Sedangkan harga minyak mentah jenis WTI AS melemah 0,76% atau 70 sen ke level US$91,49 per barel.

Meski turun tipis, harga minyak dunia bersiap mencatat kenaikan mingguan tertinggi. Brent masih mencatat kenaikan sebesar 13,5%, sedangkan WTI AS menguat 10,9% sepanjang pekan ini. (Jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

IHSG Jatuh 1,78% ke Level 6.202,66, Sentimen Global Picu Tekanan Jual

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok...

Rupiah Melemah di Akhir Pekan Imbas Eskalasi Konflik Timur Tengah

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah melemah pada perdagangan...

BAKTI Komdigi Percepat Perbaikan Kabel Laut Palapa Ring Tengah di Sulawesi Utara

BRIEF.ID – Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian...

Prabowo Klaim Hemat Anggaran Rp300 T, Dana Dialihkan untuk MBG hingga Perbaikan Sekolah

BRIEF.ID – Presiden Prabowo Subianto mengklaim bahwa pemerintah berhasil...