Harga Minyak Brent Tembus US$ 100, Bursa Wall Street Tertekan  

BRIEF.ID – Harga minyak mentah Brent kembali menembus level psikologis US$100 per barel pada perdagangan Kamis (23/7/2026), didorong meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global akibat memanasnya konflik di Timur Tengah.

Pada saat yang sama, pasar saham Amerika Serikat (AS),  Wall Street mengalami tekanan setelah saham Tesla dan Alphabet mencatat penurunan tajam menyusul laporan kinerja keuangan yang mengecewakan dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap besarnya belanja kecerdasan buatan (AI).

Indeks S&P 500 turun 1,2% dan berada di jalur untuk mencatat kerugian mingguan berturut-turut pertama sejak Maret. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 506 poin, atau 1%, dan indeks komposit Nasdaq anjlok 2,2%.

Saham-saham jatuh di bawah tekanan kenaikan harga minyak, yang meningkatkan biaya bagi bisnis dan mengurangi kemampuan pelanggan untuk berbelanja. Harga satu barel minyak mentah Brent, standar internasional, melonjak 7% menjadi US$ 100,69 per barel.

Kenaikan harga minyak dipicu oleh meningkatnya risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah, termasuk serangan terhadap kapal tanker minyak di Laut Merah  memicu kekhawatiran  terganggunya jalur distribusi energi dunia. Kondisi itu mendorong premi risiko di pasar energi dan mengangkat harga Brent ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.

Di sisi lain, Wall Street mengalami aksi jual yang cukup besar. Tesla mencatat penurunan tajam setelah membukukan arus kas bebas (free cash flow) negatif untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun, sementara Alphabet melemah akibat kekhawatiran investor terhadap lonjakan belanja AI yang dinilai dapat menekan profitabilitas perusahaan dalam jangka pendek.

Akibat kombinasi lonjakan harga minyak dan tekanan pada saham-saham teknologi berkapitalisasi besar, indeks-indeks utama Wall Street ditutup melemah.

Kenaikan harga energi juga memicu kekhawatiran bahwa tekanan inflasi dapat kembali meningkat, sehingga memperkuat ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kebijakan suku bunga yang tetap ketat dari Federal Reserve.

Kombinasi lonjakan harga minyak dan pelemahan saham teknologi meningkatkan volatilitas aset berisiko. Negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, berpotensi menghadapi tekanan dari sisi biaya energi dan inflasi apabila harga minyak bertahan di atas US$ 100 per barel dalam periode yang lebih panjang. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Prabowo Targetkan Daya Beli Masyarakat Meningkat

BRIEF.ID - Presiden Prabowo Subianto menegaskan peningkatan kesejahteraan rakyat...

Prabowo Ancam Cabut Konsesi Tambang Mangkrak, Proyek Blok Masela Disorot

BRIEF.ID – Presiden Prabowo Subianto mengancam bakal mencabut konsesi...

Pemerintah Targetkan Inklusi Keuangan 99 Persen, Siapkan Program Satu Orang Satu Rekening

BRIEF.ID – Pemerintah tengah menyiapkan program Satu Orang Satu...

Pemerintah Kucurkan Rp1,23 Triliun untuk 7 Provinsi Terdampak Karhutla

BRIEF.ID – Pemerintah pusat mengucurkan bantuan anggaran sebesar Rp1,235...