BRIEF.ID – Negara-negara produsen minyak utama di Timur Tengah mempercepat pengembangan jalur ekspor alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.
Dikutip dari Associated Press, Jumat (24/7/2026), langkah ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran terhadap potensi gangguan distribusi minyak global.
Selat Hormuz merupakan jalur utama yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Setiap hari, sekitar 15–20 juta barel minyak mentah dan produk minyak melintasi selat tersebut, atau sekitar seperlima konsumsi minyak dunia. Karena itu, setiap ancaman terhadap keamanan pelayaran di kawasan tersebut langsung memengaruhi harga energi global.
Arab Saudi menjadi salah satu negara yang paling agresif mengembangkan rute alternatif melalui East-West Pipeline (Petroline) yang menghubungkan ladang minyak di wilayah timur dengan Pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah. Jalur ini memungkinkan ekspor minyak dilakukan tanpa harus melewati Selat Hormuz.
Tingkatkan Kapasitas Pipa
Sementara itu, Persatuan Emirat Arab (PEA) terus meningkatkan kapasitas pipa minyak menuju Pelabuhan Fujairah di Teluk Oman. Pelabuhan tersebut berada di luar Selat Hormuz sehingga memberikan akses langsung ke pasar internasional apabila terjadi gangguan di jalur utama.
Perusahaan minyak milik negara Abu Dhabi, salah satu dari tujuh emirat PEA, mempercepat pembangunan jalur pipa sepanjang 300 kilometer (200 mil) senilai US$ 3 miliar menuju Fujairah. Jalur pipa yang akan berjalan sejajar dengan jalur pipa yang sudah ada, bertujuan untuk meningkatkan pasokan minyak ke Fujairah lebih dari 1,2 juta barel per hari.
Proyek ini, yang dimulai sebelum perang, dilaporkan telah selesai sekitar setengahnya, menurut Kpler, sebuah perusahaan data, analitik, dan intelijen pasar komoditas, khususnya di sektor minyak, gas alam (LNG), petrokimia, pengiriman (shipping), dan perdagangan komoditas berpusat di Brussels, Belgia.
Jalur pipa ini direncanakan selesai pada awal 2027, tetapi Kpler mengatakan pertengahan 2027 lebih mungkin mengingat kebutuhan untuk memperluas pelabuhan di Fujairah.
Jadwal yang ambisius ini “hanya menjadi mungkin di tengah blokade Selat Hormuz,” kata Victoria Grabenwöger, senior analis Kpler.
Irak juga kembali mengkaji pembangunan jaringan pipa menuju Turki, Suriah, dan Yordania sebagai bagian dari strategi diversifikasi jalur ekspor. Proyek-proyek itu diharapkan dapat memperkuat ketahanan ekspor minyak Irak sekaligus mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh ketegangan di kawasan Teluk.
Jalur alternatif tersebut belum mampu sepenuhnya menggantikan kapasitas Selat Hormuz. Infrastruktur yang tersedia masih memiliki keterbatasan kapasitas, sementara sebagian rute juga menghadapi tantangan keamanan dan biaya logistik yang lebih tinggi.
Percepatan pembangunan jalur ekspor alternatif mencerminkan upaya negara-negara produsen minyak untuk menjaga stabilitas pasokan energi dunia di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Bagi pasar global, keberhasilan proyek-proyek tersebut akan menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko lonjakan harga minyak apabila terjadi gangguan di Selat Hormuz di masa mendatang. (nov)


