BRIEF.ID – Harga emas dunia ditutup menguat pada perdagangan Kamis (30/7/2026), yang didorong pelemahan nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) dan data inflasi yang memberikan sinyal positif bagi pelaku pasar. Namun, penguatan harga logam mulia ini masih dibayangi ketidakpastian terkait perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan arah kebijakan moneter AS.
Dikutip dari Investing.com, Jumat (31/7/2026), pada pukul 19.30 GMT atau 02.30 WIB, harga emas spot naik 1,2% menjadi US$ 4.113,45 per troy ons. Sementara itu, emas berjangka menguat lebih tinggi, yakni 1,9%, ke level US$ 4.113,30 per troy ons.
Kenaikan harga emas didukung oleh melemahnya nilai tukar Dolar AS, yang membuat logam mulia menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya sehingga meningkatkan daya tarik investasi. Selain itu, sejumlah data inflasi terbaru dinilai memberikan optimisme bahwa tekanan harga mulai mereda.
Di sisi lain, pelaku pasar masih bersikap hati-hati. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus menjadi faktor yang memengaruhi sentimen investor, sementara pernyataan Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh mengenai komitmen bank sentral AS dalam mengendalikan inflasi belum sepenuhnya meyakinkan pasar.
Kalangan analis menilai arah pergerakan emas dalam jangka pendek masih akan dipengaruhi oleh perkembangan inflasi, kebijakan suku bunga The Fed, serta dinamika geopolitik global. Selama ketidakpastian tersebut masih tinggi, permintaan emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) diperkirakan tetap kuat. (nov)


