BRIEF.ID – Harga Bitcoin ditutup menguat pada perdagangan Kamis (30/7/2026), mengikuti reli aset berisiko yang dipicu optimisme terhadap sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) setelah Microsoft membukukan kinerja keuangan yang melampaui ekspektasi pasar.
Bitcoin, mata uang kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia, naik sebesar 1,4% ke level US$ 64.740,8. Penguatan ini mencerminkan meningkatnya minat investor pada aset berisiko, meskipun masih dibayang-bayangi berbagai sentimen negatif dari pasar global.
Kenaikan harga Bitcoin tertahan oleh sikap hawkish Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed) terkait arah kebijakan suku bunga, meningkatnya ketegangan geopolitik setelah serangan AS ke Iran, serta laporan keuangan mengecewakan dari Strategy Inc., salah satu perusahaan publik dengan kepemilikan Bitcoin terbesar di dunia.
Strategy melaporkan rugi bersih mencapai US$ 24,45 per saham pada Kuartal II-2026, berbalik dari laba US$ 32,60 per saham pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perusahaan juga membukukan rugi operasional sebesar US$8,33 miliar, yang sebagian besar berasal dari kerugian belum terealisasi senilai US$ 8,32 miliar atas portofolio aset digitalnya.
Tekanan atas kinerja Strategy terjadi karena harga Bitcoin masih diperdagangkan di bawah rata-rata harga akuisisi perusahaan, yakni sekitar US$ 75.400 per Bitcoin. Kondisi ini memaksa perusahaan mulai menjual sebagian cadangan Bitcoin untuk pertama kalinya dalam hampir empat tahun guna memenuhi kebutuhan modal dan kewajiban utang.
Selama empat pekan menjelang pengumuman laporan keuangan, Strategy juga tidak melakukan pembelian Bitcoin baru dan memilih memperkuat posisi kas melalui penerbitan saham. Langkah tersebut dipandang sebagai upaya menjaga likuiditas setelah perusahaan sebelumnya membiayai akumulasi lebih dari 843.000 Bitcoin melalui penerbitan utang dan saham.
Diperkirakan pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek masih akan dipengaruhi arah kebijakan moneter AS, perkembangan geopolitik, serta sentimen terhadap saham-saham teknologi yang menjadi pendorong utama minat investor terhadap aset berisiko. (Investing.com/nov)


