BRIEF.ID – Nilai tukar Yen Jepang melonjak terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (30/7/2026), setelah muncul laporan media yang menyebut pemerintah Jepang melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menopang mata uangnya.
Laporan Nikkei Asia, yang dikutip Jumat (31/7/2026), menyebutkan pemerintah Jepang turun langsung ke pasar dengan membeli Yen dan menjual Dolar AS. Langkah itu dilakukan untuk menahan pelemahan Yen yang dalam beberapa waktu terakhir berada di bawah tekanan akibat perbedaan arah kebijakan moneter antara Jepang dan AS.
Penguatan Yen turut menekan nilai tukar Dolar AS. Di sisi lain, Dolar juga melemah karena pelaku pasar merespons dengan skeptis pernyataan Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh mengenai komitmen bank sentral AS itu dalam mengendalikan inflasi. Investor menilai pernyataan Warsh belum cukup memberikan keyakinan mengenai arah kebijakan moneter ke depan.
Sementara itu, Poundsterling Inggris turut menguat setelah Bank of England (BoE) memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya, sesuai ekspektasi pasar. Keputusan BoE memberikan dukungan pada mata uang Inggris di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Akibat tekanan terhadap Dolar, Indeks Dolar AS (US Dollar Index/DXY) yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia turun 1% ke level 99,86. Posisi ini menjadi yang terendah sejak 21 April 2025, mencerminkan berkurangnya permintaan terhadap mata uang AS di pasar global.
Pelaku pasar kini menantikan perkembangan lebih lanjut terkait kebijakan moneter bank sentral utama dunia serta langkah pemerintah Jepang dalam menjaga stabilitas nilai tukar Yen. Kedua faktor ini diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan pasar valuta asing dalam beberapa waktu mendatang. (Investing.com/nov)


