BRIEF.ID – Harga Bitcoin merosot di bawah level US$ 73.000 pada Kamis (28/5/2026), menyentuh titik terendahnya dalam lebih dari enam pekan berturut-turut. Penurunan terjadi setelah serangan militer AS yang dilancarkan ke Iran, sehingga memicu aksi jual di pasar kripto.
Mata uang kripto terbesar di dunia ini terakhir diperdagangkan turun 4% ke US$ 72.782,9, menyentuh level terendahnya sejak pertengahan April. Ether, token terbesar kedua, turun 5% ke US$ 1.975,63, level terendahnya dalam dua bulan.
Sentimen investor memburuk setelah laporan yang menyebutkan bahwa Amerika Serikat telah melancarkan putaran serangan kedua ke Iran dalam pekan ini, meredam harapan tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat dan mendorong harga minyak kembali naik.
Minyak mentah Brent rebound di atas $97 per barel setelah sempat anjlok pada sesi sebelumnya di tengah optimisme seputar kemungkinan negosiasi antara Washington dan Teheran.
Pasar sempat menguat sesaat pada Rabu setelah media pemerintah Iran melaporkan adanya kemajuan menuju kerangka draf, yang dapat membuka kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.
Namun harapan itu memudar setelah Presiden AS Donald Trump menepis laporan bahwa Iran dan Oman akan bersama-sama mengawasi operasi pelayaran dalam perjanjian yang diusulkan tersebut.
Kenaikan harga minyak dan meningkatnya ketegangan geopolitik menekan minat terhadap aset-aset berisiko, termasuk mata uang kripto, sementara para investor juga bersiap menghadapi data inflasi AS yang akan dirilis pada Kamis (28/5/2026) yang dapat mempengaruhi ekspektasi suku bunga Federal Reserve. (Investing.com/nov)


