BRIEF.ID – Gelombang panas ekstrem terus melanda sebagian besar wilayah Eropa dan telah menjadi salah satu ‘bencana’ paling parah dalam sejarah pencatatan modern. Suhu di sejumlah negara menembus 40°Celcius, memicu keadaan darurat kesehatan, kebakaran hutan, gangguan transportasi, dan meningkatnya angka kematian.
Dikutip dari Reuters, Selasa (30/6/2026), negara-negara yang paling terdampak, di antaranya Prancis, Italia, Jerman, Polandia, Republik Ceko, Denmark, dan Swiss.
Di Prancis, badan kesehatan melaporkan sekitar 1.000 kematian berlebih berlebih (excess deaths) yang dikaitkan dengan gelombang panas sejak akhir Juni.
Mayoritas korban adalah lansia berusia 65 tahun ke atas. Banyak di antara korban meninggal di rumah akibat sengatan panas atau kondisi kesehatan yang diperburuk oleh suhu ekstrem. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan bertambah.
Pemerintah Prancis mengimbau masyarakat agar menghindari aktivitas luar ruangan pada siang hari dan mempertahankan status siaga tertinggi dalam sistem tanggap darurat kesehatan untuk mengantisipasi gelombang panas susulan.
Sementara itu, Jerman, Polandia, Republik Ceko, Denmark, dan Swiss sejumlah rekor suhu nasional dan rekor bulan Juni terpecahkan, di mana beberapa wilayah mencatat suhu di atas 40°Celcius.
Di kawasan Balkan seperti Serbia, Kroasia, Albania, dan negara-negara tetangga menghadapi suhu hingga 39°Celcius, disertai kebakaran hutan dan risiko kekeringan.
Dikutip dari NL Times, meskipun Belanda umumnya memiliki iklim yang sejuk, negara ini juga mengalami gelombang panas ekstrem, pada akhir Juni 2026. Beberapa wilayah mencatat suhu 37–38°Celcius, jauh di atas rata-rata musim panas, sehingga Pemerintah Belanda mengeluarkan peringatan cuaca tingkat tertinggi.
Peringatan Merah (Code Red) dikeluarkan oleh badan meteorologi Belanda (KNMI) untuk delapan provinsi, sebab saat ini merupakan salah satu peringatan panas paling serius yang pernah diterbitkan di negara itu.
Rekor suhu baru tercatat di stasiun meteorologi De Bilt, dengan suhu mencapai 33,2°C pada 26 Juni 2026, memecahkan rekor yang telah bertahan sejak 1976. Di bagian selatan negara itu, suhu bahkan mendekati 38°C.
Sekolah ditutup atau mengurangi jam belajar, sementara museum, pusat perbelanjaan, dan gedung-gedung publik membuka ruang berpendingin sebagai tempat berlindung dari panas.


