BRIEF.ID – Indeks-indeks utama di Bursa Wall Street, New York, Amerika Serikat, ditutup melemah signifikan pada perdagangan Rabu (29/7/2026). Pelemahan dipicu aksi jual berkelanjutan pada saham-saham perusahaan semikonduktor serta lonjakan harga minyak yang kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi.
Indeks acuan S&P 500 turun 1,5% menjadi 7.321,63 poin, indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi turun 1,7% menjadi 24.442,94 poin, dan indeks Dow Jones Industrial Average yang didominasi saham blue-chip turun 2,2% menjadi 51.594,86 poin.
“Kita akan melihat apakah penurunan ini berlanjut disaat perusahaan-perusahaan mega cap melaporkan hasilnya pada pekan ini dan pekan depan,” kata Peter Tuz, Presiden di Chase Investment Counsel, dikutip dari Investing.com, Kamis (30/7/2026).
Sentimen pasar sempat membaik setelah Federal Reserve (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50%–3,75%, sesuai ekspektasi pasar. Keputusan tersebut sempat meredakan kekhawatiran investor mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Namun, optimisme itu tidak bertahan lama. Tiga pejabat The Fed menyampaikan perbedaan pendapat (dissent) dengan mendukung kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Perbedaan pandangan tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran bank sentral terhadap tekanan inflasi yang dipicu lonjakan harga minyak.
Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat memicu kekhawatiran bahwa The Fed dinilai tertinggal dalam mengendalikan inflasi setelah kembali mempertahankan suku bunga pada pertemuan kali ini.
Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan komite tetap siap mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas harga. Namun, pernyataan tersebut gagal meredakan kekhawatiran di pasar obligasi.
Di pasar energi, harga minyak melonjak setelah Presiden Donald Trump menyatakan Amerika Serikat akan memberikan respons militer keras terhadap Iran menyusul dugaan serangan rudal terhadap pasukan AS di Timur Tengah.
Harga minyak mentah Brent ditutup naik lebih dari 7% ke kisaran US$90 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat lebih dari 6% menjadi sekitar US$84 per barel.
Kenaikan harga energi turut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik hampir 7 basis poin menjadi 4,671%, mencerminkan meningkatnya ekspektasi inflasi.
Sementara itu, harga emas spot menguat 1,9% ke US$4.101 per troy ounce setelah keputusan The Fed mempertahankan suku bunga melemahkan dolar AS dan meningkatkan daya tarik logam mulia sebagai aset lindung nilai. (nov)


