BRIEF.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inlasi Mei 2026 melonjak menjadi 3,08% secara tahunan atau year-on-year dipicu kenaikan harga beras hingga bahan bakar minyak (BBM).
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, menyampaikan secara tahun kalender atau year-to-date (ytd) inflasi tercatat sebesar 1,35% dan secara bulanan atau month-to-month (mtm) sebesar 0,28%.
“Indeks Harga Konsumen (IHK) juga mengalami kenaikan menjadi 111,40 pada Mei 2026 dari posisi sebelumnya 111,09 pada April 2026,” kata Pudji, dalam konferensi persm di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Dia menjelaskan, lonjakan inflasi terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 4,94% dan memberi andil inflasi 1,43%.
“Komoditas dengan andil inflasi terbesar ialah beras, ikan segar, daging ayam ras, minyak goreng, cabai rawit, sigaret kretek mesin, dan cabai merah,” ungkap Pudji.
Kelompok pengeluaran lain yang memberi inflasi adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, yakni mengalami inflasi mencapai 10,35% dan memberi andil 0,7%, terutama pada kelompok emas dan perhiasan.
Selain itu, kenaikan harga BBM nonsubsidi pada Mei 2026 juga mendorong lonjakan inflasi transportasi sebesar 0,61% (mtm) dengan andil inflasi sebesar 0,07%.
Inflasi transportasi disumbang oleh kenaikan harga bensin dengan andil inflasi sebesar 0,02%, tarif angkutan udara 0,02%, pelumas atau oli mesin 0,01%, dan solar 0,01%.
“Ini terjadi seiring meningkatnya harga beberapa jenis BBM non-subsidi dan harga avtur,” ujar Pudji.
Kenaikan harga beras yang memicu lonjakan inflasi juga terjadi di sebagian besar negara Asia pada Mei 2026, dan tercatat sebagai inflasi tertinggi dalam 18 tahun terakhir.
Bloomberg News melaporkan harga beras putih Thailand, yang menjadi acuan, meroket 20% pada Mei 2026, yang merupakan kenaikan bulanan tertinggi sejak 2008.
Kenaikan harga beras tidak lepas dari lonjakan harga pupuk akibat penutupan Selat Hormuz. Para petani di Asia harus membayar biaya produksi yang lebih tinggi.
Berdasarkan data International Rice Research Institute, sejak perang di Timur Tengah meletus pada akhir Februari lalu, harga pupuk nitrogen naik 40-50%. (jea)


