Bitcoin Tembus US$ 65.000, Ketegangan AS-Iran Batasi Reli

BRIEF.ID – Harga Bitcoin kembali menembus level psikologis US$ 65.000 pada perdagangan Senin (20/7/2026), didorong oleh meningkatnya minat investor terhadap aset digital di tengah ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter global.

Namun, reli mata uang kripto terbesar di dunia itu masih dibatasi  meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memicu sikap hati-hati di kalangan investor.

Bitcoin sempat diperdagangkan di atas US$ 65.000, didukung arus dana yang tetap mengalir ke pasar kripto serta optimisme terhadap prospek adopsi aset digital oleh investor institusi. Meski demikian, kenaikan itu tidak berlangsung agresif karena pelaku pasar juga mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi meningkatkan volatilitas di pasar keuangan global.

Eskalasi konflik AS-Iran telah mendorong harga minyak mentah naik tajam dan memicu kekhawatiran terhadap meningkatnya tekanan inflasi. Kondisi itu dapat mempengaruhi arah kebijakan Federal Reserve (The Fed), yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama apabila inflasi kembali meningkat.

Ketidakpastian juga membuat sebagian investor memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk aset kripto. Meski Bitcoin berhasil menembus level US$65.000, ruang penguatannya masih relatif terbatas dibandingkan potensi yang diperkirakan sebelumnya.

Kalangan analis menilai pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS. Apabila ketegangan di Timur Tengah mereda, minat terhadap aset berisiko berpeluang kembali meningkat dan membuka ruang bagi Bitcoin untuk melanjutkan penguatan.

Sebaliknya, jika konflik terus bereskalasi dan mendorong lonjakan harga energi, pasar berpotensi kembali beralih ke aset yang dianggap lebih aman. Dalam kondisi tersebut, volatilitas Bitcoin diperkirakan tetap tinggi meskipun tren jangka panjang aset kripto ini masih dinilai positif.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga menantikan sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat yang dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed. Kombinasi faktor makroekonomi dan perkembangan geopolitik diperkirakan akan menjadi penentu utama pergerakan Bitcoin dalam beberapa pekan mendatang. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

AI Factory NVIDIA di Batam Berpotensi Hasilkan US$ 30 Miliar

BRIEF.ID - Rencana pembangunan AI Factory NVIDIA di Batam,...

Mayoritas Bursa Asia Menguat, Korsel dan Jepang Pulih dari Tekanan Saham AI

BRIEF.ID – Sebagian besar pasar saham Asia ditutup menguat...

Pelibatan Babinsa Untuk Awasi Wajib Pajak Tuai Kritik Keras

BRIEF.ID – Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan...

Pramono Targetkan Terbitkan Obligasi Daerah Rp3,5 Triliun pada 2027

BRIEF.ID – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta menargetkan penerbitan Obligasi...