BRIEF.ID – Bank Indonesia (BI) memperkirakan lonjakan inflasi global mencapai angka 4% dengan pertumbuhan ekonomi global melemah ke level 3% pada tahun ini. Dengan demikian, dunia memasuki tren kebijakan moneter yang makin ketat.
Pernyataan itu, disampaikan Gubernur BI, Destry Damayanti, dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG-BI), pada Rabu (23/9/2026).
Menurut dia, BI memandang bahwa prospek perekonomian global belum kuat, disertai dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi.
Hal itu dipengaruhi konflik Timur Tengah yang tak kunjung usai, begitu juga konflik geopolitik Rusia-Ukraina yang kembali memanas, sehingga mengancam krisis energi global.
Dampaknya, tekanan aset berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) masih tinggi, begitu juga lonjakan harga minyak dunia, dan komoditas global, sehingga memicu inflasi tinggi.
“BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi global 2026 diprakirakan masih lemah sekitar 3% dan diikuti tekanan inflasi yang meningkat menjadi sekitar 4%,” kata Destry.
Dengan perkembangan tersebut, Destry menyebut, kebijakan moneter global ke depan menjadi lebih ketat, termasuk tren kenaikan suku bunga acuan.
Sejumlah negara maju telah memutuskan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis points. Bahkan Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) mengindikasikan masih terbuka ruang untuk menaikkan suku bunga atau Fed Funds Rate (FFR) sebesar 25 bps hingga akhir 2026.
Destry menyampaikan, berbagai ketidakpastian global tersebut, membuat referensi investor global terhadap investasi portfolio ke negara berkembang (emerging market) cenderung tertahan.
Investor cenderung memilih instrumen investasi berbasis dolar AS, seperti indeks dolar AS maupun Obligasi Pemerintah AS atau US Treasury karena dinilai lebih menguntungkan di era suku bunga tinggi.
Kondisi ini, lanjutnya, harus direspons melalui sinergi kebijakan fiskal, dan moneter, serta makroekonomi yang berujung pada penguatan ketahanan eksternal, dan menjaga stabilitas domestik.
“Penguatan respon dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik sangat diperlukan dalam kondisi ini,” tutur Destry. (Jea)


