BRIEF.ID – Bank Indonesia (BI) membeberkan penyebab pelemahan rupiah, yang telah menembus level psikologis Rp17.800 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Jumat (29/5/2026).
Pada akhir perdagangan hari ini, nilai tukar (kurs) rupiah ditutup melemah 0,48% ke level Rp17.874 per dolar AS, yang merupakan level terlemah sepanjang masa.
Hari ini juga menandai perdagangan terakhir pada Mei 2026. Sepanjang bulan ini, kurs mata uang Garuda membukukan depresiasi sebesar 2,91%, dan melemah selama tiga bulan berturut-turut.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan pelemahan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah.
“Selain itu, terdapat peningkatan kebutuhan valuta asing (valas) secara musiman, antara lain untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen, di tengah arus masuk dolar AS yang terbatas,” kata Denny, dalam siaran pers, di Jakarta, Jumat (29/5/2026).
.
Menurut dia, BI terus berkomitmen hadir di seluruh pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah itu dilakukan dengan mengoptimalkan intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara konsisten dan terukur.
“Langkah ini sesuai dengan pernyataan Bapak Gubernur Bank Indonesia pada kesempatan sebelumnya, bahwa Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock,” ungkap Denny.
Selain intervensi di seluruh pasar, lanjutnya, BI juga terus memperkuat efektivitas bauran kebijakan moneter melalui penguatan struktur suku bunga instrumen moneter, yang pro-market guna menjaga daya tarik aset keuangan domestik dan mendukung masuknya aliran modal asing.
Sementara untuk membatasi permintaan dolar AS, kata Denny, BI juga telah menetapkan threshold tunai beli valas terhadap rupiah tanpa underlying menjadi US$25.000 per pelaku per bulan yang akan berlaku mulai Juni 2026.
“Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait untuk mendukung stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar, antara lain melalui penguatan pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan aktivitas pembelian dolar AS yang tinggi,” tutur Denny.
Dia menuturkan, BI akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.
Terlemah di Asia
Pada perdagangan hari ini, rupiah menembus level psikologis Rp17.800, setelah libur Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah selama 2 hari, pada 27-28 Mei 2026.
Melemahnya rupiah terjadi di saat mayoritas mata uang Asia menguat seiring perkembangan terbaru konflik Timur Tengah. AS dan Iran dikabarkan mencapai kesepakatan perdamaian sementara, dan akan melanjutkan gencatan senjata selama 60 ke depan.
Hal itu menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan Asia, ditandai dengan penguatan mayoritas mata uang Asia, antara lain Baht Thailand, Ringgit Malaysia, Rupee India, Dolar Taiwan, Yuan Tiongkok, dan Peso Filipina.
Sementara mata uang Asia yang melemah adalah Won Korea Selatan, Rupiah Indonesia, serta Dolar Singapura.
Meski demikian sepanjang Mei 2026, rupiah terkoreksi sebesar 2,91% dan tercatat menjadi mata uang terlemah di Asia, disusul Won Korea Selatan (-2,1%), dan Yen Jepang (-1,67%) terhadap dolar AS.
Bahkan jika dirunut sejak April 2026 atau awal kuartal II 2026, maka pelemahan rupiah terhadap dolar AS tercatat mencapai 4,92%. (jea)


