BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan masih bergerak sideways, sebab belum ada isu menarik yang dapat mengangkat kinerjanya.
Berdasarkan riset Phintraco Sekuritas, IHSG bergerak pada resistance 7.700, pivot 7.600, dan support 7.550. Saham-saham yang perlu dicermati, di antaranya ICBP, INTP, MYOR, EMTK, dan NCKL.
Sebelumnya, IHSG ditutup melemah tipis di level 7.621,38 atau turun 0,03% pada perdagangan Kamis (16/4/2026). Harapan adanya perundingan lanjutan AS-Iran yang dapat menghentikan perang serta turunnya harga minyak mentah masih menjadi faktor positif.
“Secara teknikal, kondisi IHSG yang masih berada di area overbought mendorong terjadinya profit taking. Sehingga diperkirakan IHSG masih akan bergerak sideways pada kisaran 7.550-7.700,” kata riset Phintraco Sekuritas yang dirilis, Jumat (17/4/2026).
Sementara itu, nilai tukar Rupiah ditutup menguat terbatas sebesar 0,02% di level Rp 17.136 per Dolar AS, yang ditopang oleh pergerakan mata uang kawasan yang cenderung menguat, pada perdagangan Kamis (16/4/2026).
Di tengah ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran prospek ekonomi domestik, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi salah satu opsi investasi yang disukai oleh investor karena menawarkan imbal hasil tinggi.
Depresiasi Rupiah membuat BI melakukan intervensi dan SRBI menjadi salah satu alat untuk menyerap likuiditas Rupiah dan mendukung stabilitas nilai tukar. BI menambah frekuensi lelang dari satu kali dalam sepekan menjadi dua kali dalam sepekan sejak Februari 2026 dalam kondisi Rupiah yang terus mengalami pelemahan.
Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi dunia akan mengalami kekurangan minyak mentah pada 2026, meskipun perang AS-Iran dapat berhenti, pekan ini. IMF mengingatkan agar pemerintah menahan belanja subsidi energi yang berlebihan meskipun untuk melindungi konsumen dari kenaikan harga energi. Hal ini karena sebelum terjadi perang, keuangan publik telah tertekan.
Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperkirakan pasokan minyak global tahun ini akan turun menjadi 10,1 juta barel per hari. Selain itu, IEA juga memprediksi terjadinya penurunan tajam permintaan minyak dunia. (nov)


