BRIEF.ID – Bursa saham Wall Street, New York, Amerika Serikat (AS) mengawali bulan September dengan pelemahan, di tengah kenaikan harga minyak dan imbal hasil (yield) Treasury AS. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran investor pada tekanan inflasi dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Indeks teknologi Nasdaq Composite turun 1% menjadi 26.099,77 poin. S&P 500 melemah 0,7% ke 7.632,70 poin, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,8% menjadi 52.767,59 poin.
Pelemahan terjadi setelah Wall Street mencatat kinerja positif sepanjang Agustus, yang terutama ditopang oleh musim laporan keuangan yang kuat serta kembali menguatnya saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI).
Pasar masih menghadapi volatilitas tinggi. Pergerakan harga minyak dan aksi jual di pasar obligasi membuat reli saham kerap diikuti aksi ambil untung, menciptakan pola kenaikan dan penurunan yang berulang.
Data ekonomi terbaru menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja AS melunak, tetapi masih relatif tangguh. Perkembangan tersebut membuat ekspektasi investor terhadap kemungkinan perubahan suku bunga The Fed relatif tidak banyak berubah.
“Pasar saat ini, lebih dari apa pun, membutuhkan stabilitas,” ujar Yerbol Orynbayev, mantan gubernur Bank Dunia Kazakhstan.
Menurutnya, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, hubungan perdagangan dengan Kanada, serta kembali menguatnya harga minyak membuat prospek ekonomi makro semakin sulit diprediksi.
Memasuki September, investor diperkirakan akan mencermati perkembangan harga energi, pasar obligasi, data ekonomi AS, serta sinyal kebijakan moneter The Fed. Volatilitas berpotensi tetap menjadi tema utama perdagangan jika tekanan dari pasar energi dan obligasi berlanjut. (Investing.com/nov)


