Wall Street Ditutup Menguat, Inflasi AS Sesuai Ekspektasi

BRIEF.ID – Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup mayoritas menguat pada perdagangan Rabu (12/8/2026), setelah data inflasi konsumen (CPI) Juli sesuai dengan ekspektasi pasar. Data tersebut mendorong investor mengurangi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang lebih ketat.

Indeks S&P 500 naik 0,3% dan ditutup pada level 7.749,19. Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi menguat 0,5% menjadi 26.588,49. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average berakhir nyaris datar di level 53.770,16.

Perhatian investor tertuju pada laporan CPI Juli untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter The Fed. Sebelumnya, laporan ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan telah meningkatkan spekulasi bahwa bank sentral AS memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan suku bunga.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan CPI utama naik 0,1% secara bulanan (M/M) pada Juli, setelah turun 0,4% pada Juni. Secara tahunan (Y/Y), inflasi konsumen melambat menjadi 3,4% dari 3,5%.

Sementara itu, CPI inti, yang tidak memperhitungkan harga makanan dan energi, naik 0,2% secara bulanan setelah tidak berubah pada Juni. Secara tahunan, CPI inti melambat menjadi 2,5% dari 2,6%.

Keempat ukuran tersebut sesuai dengan perkiraan pasar. Kondisi ini meredakan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi yang lebih tinggi akan membatasi ruang gerak The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga.

Pasar selanjutnya akan mencermati laporan indeks harga produsen (PPI) AS untuk Juli yang dijadwalkan dirilis Kamis (13/8/2026). Data tersebut menjadi perhatian karena komponen CPI dan PPI turut digunakan dalam perhitungan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), indikator inflasi yang lebih menjadi perhatian The Fed.

Di pasar komoditas, harga minyak bergerak fluktuatif di tengah ketegangan terkait Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump menyatakan Amerika Serikat memiliki “kendali penuh” atas jalur perairan strategis tersebut, sementara Iran kembali menegaskan kendalinya atas Selat Hormuz.

Pergerakan pasar menunjukkan investor masih sensitif terhadap kombinasi prospek kebijakan moneter AS dan risiko geopolitik. Inflasi yang lebih terkendali serta melemahnya pasar tenaga kerja dapat menjadi katalis positif bagi aset berisiko, sementara ketegangan di Timur Tengah tetap berpotensi meningkatkan volatilitas pasar.

Bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, prospek suku bunga AS yang lebih rendah berpotensi memberikan sentimen positif melalui aliran modal ke aset berisiko. Namun, pergerakan dolar AS, harga komoditas, dan perkembangan geopolitik global masih menjadi faktor penting yang menentukan arah pasar dalam perdagangan berikutnya. (Investing.com/nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Optimisme Investor Meningkat, IHSG Berpotensi Menguat

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan...

Harga Minyak Fluktuatif di Tengah Perebutan Kendali Selat Hormuz

BRIEF.ID – Harga minyak dunia bergerak fluktuatif pada perdagangan...

Kejagung Tahan Dua Tersangka Kasus Dugaan Transfer Pricing PT TPL, Kerugian Negara Sementara Rp2 Triliun

BRIEF.ID — Kejaksaan Agung menetapkan dua orang penyelenggara negara...

Rafale Indonesia Tampil Perdana, Siap Hiasi Langit Istana di HUT ke-81 RI

BRIEF.ID - Langit Istana Merdeka akan menjadi salah satu...