Harga Minyak Fluktuatif di Tengah Perebutan Kendali Selat Hormuz

BRIEF.ID – Harga minyak dunia bergerak fluktuatif pada perdagangan Rabu (12/8/2026), setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling menegaskan klaim kendali atas Selat Hormuz. Ketidakpastian mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran vital tersebut membuat investor tetap berhati-hati.

Pada pukul  20.38 GMT atau pukul 02.38 WIB, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober turun 0,6% menjadi US$88,38 per barel, setelah sempat menyentuh level tertinggi sesi di US$90,06 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman September turun 0,7% menjadi US$82,63 per barel.

Pergerakan harga minyak mencerminkan ketidakpastian mengenai prospek pembukaan kembali Selat Hormuz. Hingga kini, belum terlihat kemajuan signifikan menuju kesepakatan yang dapat mengakhiri ketegangan di kawasan dan memulihkan lalu lintas pelayaran melalui jalur strategis tersebut.

AS dan Iran juga masih mempertahankan posisi masing-masing terkait kendali atas Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump melalui platform Truth Social menyatakan bahwa AS memiliki “kendali penuh” atas selat tersebut.

Sementara itu, Iran kembali menuntut penghentian permusuhan oleh AS di seluruh lini serta pencairan aset-aset Iran yang dibekukan sebagai prasyarat pembukaan kembali Selat Hormuz.

Pernyataan yang dilaporkan media pemerintah Iran pada Selasa (11/8/2026), mengutip komentar Kepala Dewan Keamanan Iran Mohsen Rezaei kepada Duta Besar Tiongkok untuk Teheran.

Ketidakpastian itu menjadi perhatian pasar karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur strategis perdagangan energi dunia. Penutupan berkepanjangan berpotensi mengganggu pasokan dan distribusi minyak global sekaligus meningkatkan biaya transportasi energi.

Sejumlah lembaga energi utama juga mulai memperkirakan dampak penutupan Selat Hormuz terhadap permintaan minyak dunia akan lebih besar apabila gangguan berlangsung lebih lama.

Investor kini mencermati perkembangan negosiasi AS-Iran dan kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz. Setiap perkembangan menuju deeskalasi berpotensi menekan harga minyak, sedangkan eskalasi ketegangan dapat kembali mendorong harga minyak mendekati atau menembus US$90 per barel. (Investing.com/nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Optimisme Investor Meningkat, IHSG Berpotensi Menguat

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan...

Wall Street Ditutup Menguat, Inflasi AS Sesuai Ekspektasi

BRIEF.ID – Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street,...

Kejagung Tahan Dua Tersangka Kasus Dugaan Transfer Pricing PT TPL, Kerugian Negara Sementara Rp2 Triliun

BRIEF.ID — Kejaksaan Agung menetapkan dua orang penyelenggara negara...

Rafale Indonesia Tampil Perdana, Siap Hiasi Langit Istana di HUT ke-81 RI

BRIEF.ID - Langit Istana Merdeka akan menjadi salah satu...