Kenangan Rini A. Djaffar untuk Guruh Soekarnoputra: Disiplin, Karya, dan Cinta pada Seni Budaya

BRIEF.ID – Kepergian Guruh Soekarnoputra meninggalkan kenangan mendalam bagi banyak orang yang pernah mengenal dan bekerja bersamanya.

Salah satunya Rini A. Djaffar selaku Founder Alayya’s Community sekaligus pegiat industri kreatif yang tengah mengenang sosok Guruh sebagai pribadi yang tegas, disiplin, sekaligus menjadi sumber inspirasi dalam kecintaan terhadap seni dan budaya Indonesia.

Bagi Rini, perjumpaannya dengan Guruh bukan sekadar sebuah kesempatan untuk mengenal maestro seni secara dekat. Ia juga pernah mendapat kepercayaan dari Guruh untuk menjalankan sejumlah tugas dalam sebuah pagelaran, termasuk menjadi pembawa acara sekaligus penanggung jawab.

“Mas Guruh, terima kasih ya. Sudah pernah terima baik dan gembleng saya dalam sebuah kesempatan. Disiplin dan tegasnya bikin saya jadi percaya diri,” kata Rini A. Djaffar mengenang Guruh.

Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Rini adalah ketika Guruh mempercayakan koleksi Batik Tulis Sutera Prada hasil karyanya untuk dikenakan dalam pagelaran First Anniversary Indonesian Gastronomi Association.

Rini mengaku sempat terpukau ketika melihat langsung koleksi tersebut. Kain panjang dan stola dengan berbagai corak itu, menurut dia, memperlihatkan kualitas karya seni yang tidak biasa karena dibuat melalui proses canting tangan.

“Saat itu saya melongo kagum melihat karya Batik Tulis Sutera berupa kain panjang, stola, indah-indah semua. Mahakarya sempurna, coretan canting tangan beliau sendiri. Wajar jika harganya fantastis,” ujar Rini.

Kepercayaan yang diberikan Guruh ketika itu juga membuat Rini merasa gugup sekaligus bangga. Ia menyadari bahwa koleksi yang dipercayakan kepadanya bukan sekadar busana, melainkan karya seni yang memiliki nilai sejarah dan budaya.

“Dagdigdig saya ketika diberi tanggung jawab itu. Mas Guruh memperlihatkan koleksi-koleksinya kepada kami dan bercerita tentang keinginannya menjadikan koleksi batik tulis canting karya-karyanya, termasuk lukisan-lukisannya, dalam sebuah museum kelak,” tuturnya.

Menurut Rini, pembicaraan mengenai museum tersebut menjadi salah satu kenangan yang terus melekat dalam ingatannya. Saat itu, keduanya bahkan sempat berdoa agar cita-cita tersebut dapat terwujud.

“Kami sama-sama berdoa, semoga terwujud ya, Mas,” kata Rini.

Rini berharap gagasan tersebut tidak berhenti setelah kepergian Guruh. Ia berharap seluruh karya peninggalan Guruh dapat dihimpun dan dirawat, baik melalui museum fisik maupun museum digital, sehingga dapat diakses dan dipelajari oleh generasi mendatang.

“Harapan saya, museum fisik atau digital yang memuat semua karya-karya beliau akan terwujud sebagai warisan peninggalan cinta beliau untuk generasi negeri ini dalam bidang sejarah, seni dan budaya,” ujarnya.

Bagi Rini, Guruh bukan hanya seorang seniman. Ia melihat Guruh sebagai legenda sekaligus pendidik yang melalui karya-karyanya terus menanamkan kecintaan terhadap seni dan budaya Indonesia.

“Karya seni dan budaya luhur Mas Guruh akan tetap abadi dan lestari. Beliau adalah legenda dan pendidik. Beliau sumber inspirasi cinta seni dan budaya,” kata Rini.

Rini juga mengenang bagaimana karya dan kiprah Guruh turut membakar semangat generasi muda, khususnya pada era 1980-an dan 1990-an. Warisan itu, menurutnya, tidak hanya berupa musik dan lagu, tetapi juga batik tulis canting, lukisan, serta berbagai karya seni lainnya.

“Amal baik beliau menjadi sumber inspirasi dan memotivasi lewat karya-karya musik, lagu, batik canting, lukisan dan lain-lain,” tutur Rini.

Di akhir pesannya, Rini menyampaikan penghormatan dan doa untuk Guruh Soekarnoputra yang telah berpulang.

“Selamat jalan, Mas. Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ’anhu. Aamiin Allahumma Aamiin,” ucap Rini A Djaffar.

Guruh Soekarnoputra, yang memiliki nama lengkap Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, meninggal dunia pada Sabtu (26/9/2026) dalam usia 73 tahun. Putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno dan Fatmawati itu kemudian dimakamkan pada hari yang sama di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat.

Pusara Guruh berada di samping makam ibundanya, Fatmawati. Lokasi tersebut menjadi bagian dari area pemakaman keluarga Soekarno. Guruh dimakamkan di Blad 07 Blok AAI, berdekatan dengan makam M. Taufan Soekarnoputra. (ayb)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Daya Magis Sheila On 7 dan Orkestra Energi Pestapora Day 2

BRIEF.ID – Waktu menunjukkan pukul 22:00 WIB, namun energi...

Guruh Soekarnoputra Meninggal Dunia di Usia 73 Tahun, Sempat Dirawat Insentif di RS Siloam

BRIEF.ID - Guruh Soekarnoputra, seniman sekaligus politisi Partai Demokrasi...

BEI Ubah Batas Harga Minimum Auto Rejection Jadi Rp1 per Saham, Tak Lagi Pakai Presentase

BRIEF.ID - Bursa Efek Indonesia (BEI) memutuskan mengubah ketentuan...

IHSG Terkoreksi 3,09% Sepanjang Pekan Ini, Kapitalisasi Pasar BEI Turun Rp361 Triliun

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa...