BRIEF.ID – Harga minyak dunia melonjak hampir 6% setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan, pada Rabu (8/7/1016) bahwa kesepakatan sementara dengan Iran “sudah berakhir,” meskipun tetap mengizinkan pembicaraan untuk dilanjutkan.
Trump menyampaikan komentar itu setelah serangan AS terhadap Iran sebagai reaksi atas serangan terhadap tiga kapal di Selat Hormuz. Harga minyak mentah Brent melonjak 5,6% menjadi lebih dari US$ 78 per barel. Harga minyak mentah acuan AS melonjak 5,8% menjadi US$ 74,55 per barel.
“Bagi saya, saya pikir ini sudah berakhir,” jawab Trump ketika ditanya tentang status gencatan senjata. “Hanya membuang waktu berurusan dengan mereka,” katanya di sela-sela KTT NATO dua hari di Ankara, Turki.
Iran dan AS sepakat sebagai bagian dari kesepakatan sementara mereka untuk mengakhiri perang, mengizinkan kapal-kapal melewati Selat Hormuz tanpa membayar biaya selama 60 hari.
Namun Teheran bersikeras bahwa mereka harus mengontrol rute kapal dan berjanji akan mengenakan biaya untuk pelayaran di kemudian hari. Hal itu akan mengubah praktik yang telah berlangsung selama beberapa dekade di jalur air tersebut.
Kapal-kapal yang diserang pada Selasa (7/7/2026) tampaknya semuanya menggunakan rute yang dekat dengan pantai Oman, bukan rute yang diperintahkan oleh Teheran.
Kenaikan harga minyak juga memicu kekhawatiran akan meningkatnya inflasi di berbagai negara. Biaya energi yang lebih tinggi dapat berdampak pada ongkos transportasi, industri, dan harga kebutuhan pokok, sehingga memperbesar tekanan terhadap perekonomian global yang masih menghadapi berbagai tantangan.
Pelaku pasar kini mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah. Apabila aksi saling serang terus berlanjut atau melibatkan lebih banyak negara, harga minyak diperkirakan akan tetap bergejolak. Sebaliknya, jika upaya diplomasi berhasil meredakan ketegangan, pasar energi berpeluang kembali stabil.
Eskalasi konflik ini kembali menunjukkan bahwa dinamika geopolitik di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada keamanan kawasan, tetapi juga memiliki konsekuensi besar terhadap pasar energi, perdagangan internasional, dan pertumbuhan ekonomi dunia. (Associated Press/nov)


