IHSG Terpuruk ke Zona Merah Imbas Tinjauan MSCI dan Dow Jones

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terpuruk ke zona merah imbas tinjauan Morgan Stanley Capital International (MSCI), dan S&P Dow Jones Indices (DJI).

Pada sesi I perdagangan hari ini, rabu (8/7/2026), IHSG ditutup terkoreksi 1,11% atau 66,34 poin ke level 5.920. Sebelumnya, IHSG dibuka melemah 0,04% atau 2,32 poin ke posisi 5.984.

Sepanjang sesi I perdagangan yang berakhir pukul 12:oo waktu JATS, IHSG bergerak di zona merah, dengan menyentuh level tertinggi di 5.984, dan level terendah di 5.897.

Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 447 saham turun harga, 197 saham naik harga, dan 142 saham tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.

Adapun volume saham yang ditransaksikan sepanjang sesi I perdagangan mencapai 12,250 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.137.021 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp5,227 triliun.

Gabungan sentimen dari dalam dan luar negeri membuat IHSG tertekan ke zona merah, seiring aksi jual yang dilancarkan investor terhadap saham-saham potensial dan berkapitalisasi besar (big caps).

Ruang gerak IHSG menjadi terbatas akibat tekanan dari tinjauan MSCI dan S&P DJI terhadap saham-saham perusahaan terbuka (emiten) dan pasar modal Indonesia.

Dalam review indeks Agustus 2026 yang dirilis Senin (6/7/2026), MSCI membekukan seluruh peningkatan foreign inclusion factors (FIF) dan number of shares (NOS) dalam MSCI Global Investable Market Indexes.

MSCI menyatakan tidak akan menerapkan kenaikan klasifikasi antarindeks berdasarkan segmen ukuran, termasuk perpindahan dari small cap ke standard.

Sedangkan S&P DJI memberi sinyal saham emiten asal Indonesia bisa turun kelas ke special measures atau frontier market. Penyedia indeks global yang bebasis di Amerika Serikat (AS) ini, juga memasukkan Indonesia ke dalam daftar negara yang berpotensi mengalami reklasifikasi pasar pada tahun 2027.

Selain itu, sentimen negatif juga datang dari perkembangan terbaru konflik Timur Tengah. Kementerian Keuangan AS, mencabut pelonggaran atas sanksi terhadap minyak Iran, sebagai balasan atas serangan Iran terhadap kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz.

Dikabarkan ada 3 kapal yang diserang militer Iran. Pertama, kapal Al Rekayyat yang mengangkut gas alam. Kedua, kapal tanker minyak milik Arab Saudi. Ketiga, kapal tanker yang belum diindentifikasi.

Dengan kejadian tersebut, minyak mentah asal Iran kembali sulit masuk ke pasar internasional. Perkembangan ini membuat harga minyak dunia kembali melonjak. Pada perdagangan Selasa (7/7/2026), harga minyak dunia jenis Brent melonjak 5,8% ke level US$76,15 per barel.

Sementara dari dalam negeri, pelemahan IHSG juga dipengaruhi kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia, setelah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit 0,76% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) per akhir Juni 2026.

Dalam rapat kerja bersama DPR pada Selasa (7/7/2026), Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan defisit APBN hingga akhir Juni 2026 mencapai Rp196,5 triliun atau setara 0,76% terhadap PDB (vs. 1H25: defisit 0,84% terhadap PDB).

Untuk perdagangan hari ini, IHSG diprediksi berpotensi melemah dan bergerak di kisaran level support 5.890 hingga level resistance 5.990. (Jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

S&P Dow Jones Beri Sinyal Saham Indonesia Turun Kelas ke Frontier Market

BRIEF.ID - S&P Dow Jones Indices (DJI) memberi sinyal...

Rupiah Kembali Sentuh Rp18.000 per Dolar AS Imbas Harga Minyak Dunia Melonjak

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah kembali menyentuh level...

Harga Buyback Emas Antam Jatuh di Bawah Rp2,4 Juta per Gram Hari Ini

BRIEF.ID - Harga pembelian kembali (buyback) emas batangan produksi...

Pramono Anung Targetkan Perizinan KLB Selesai Maksimal 15 Hari

BRIEF.ID – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus membenahi...