BRIEF.ID – Harga emas dunia menguat lebih dari 1% pada perdagangan Rabu (29/7/2026) setelah mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) melemah menyusul keputusan Federal Reserve (The Fed) yang kembali mempertahankan suku bunga acuannya. Pelemahan Dolar meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter.
Pada pukul 18.07 GMT atau Kamis (30/7/2026) pukul 01.07 dini hari WIB, harga emas di pasar spot naik sekitar 1% menjadi US$ 4.072,11 per troy ons, sementara kontrak berjangka emas AS menguat hampir 1% ke US$4.077 per troy ons.
Penguatan tersebut membalikkan pelemahan lebih dari 1% yang terjadi pada sesi sebelumnya, ketika emas tertekan oleh penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah menjelang pengumuman hasil rapat kebijakan The Fed.
Pada pertemuan yang berlangsung Rabu (29/7/2026), Federal Open Market Committee memutuskan mempertahankan suku bunga dana federal pada kisaran 3,50%-3,75% untuk kelima kalinya secara berturut-turut.
Keputusan itu diambil melalui hasil pemungutan suara 9 berbanding 3. Tiga pejabat The Fed, yakni Lorie Logan, Beth Hammack, dan Neel Kashkari, menyatakan perbedaan pendapat dengan mendukung kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Meski mayoritas pelaku pasar telah memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga, ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan mendatang meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Hal itu dipicu volatilitas harga minyak yang kembali memunculkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.
Secara umum, suku bunga yang tinggi dalam waktu lama cenderung menjadi sentimen negatif bagi emas karena meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil. Namun, pelemahan dolar setelah keputusan The Fed kali ini justru mendorong permintaan terhadap logam mulia tersebut sebagai aset aman. (nov)


