Tak Hanya Sembako, Pengungsi Anak Korban Gempa NTT Dapat Trauma Healing & Perpustakaan Keliling

BRIEF.ID – Penanganan pengungsi korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) tak hanya menyasar kebutuhan pangan dan tempat tinggal.

Di tengah aktivitas pengungsian, anak-anak juga mendapat pendampingan psikososial melalui trauma healing dan layanan perpustakaan keliling. Layanan tersebut dihadirkan di posko pengungsian GOR Samador, Kabupaten Sikka, Selasa (18/8/2026), melalui kolaborasi pemerintah dengan sejumlah unsur masyarakat.

Kegiatan ini menjadi upaya untuk menjaga kondisi psikologis sekaligus memberikan ruang bagi anak-anak agar tetap bisa bermain dan belajar meski harus meninggalkan rumah akibat bencana.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton SP Panjaitan mengatakan kebutuhan anak-anak di lokasi pengungsian tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan fisik.

“Kehadiran perpustakaan keliling dan trauma healing di GOR Samador menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga memperhatikan kondisi psikologis dan sosial masyarakat terdampak,” tutur Berton dalam keterangan resminya, Selasa (18/8).

Dalam kegiatan trauma healing, Berton menyebut bahwa anak-anak diajak berinteraksi dan bermain bersama para pendamping. Aktivitas tersebut dirancang secara interaktif dan menyenangkan agar anak-anak tetap mendapatkan stimulasi sesuai usia dan kebutuhan perkembangannya.

Sejumlah kegiatan dilakukan, mulai dari permainan edukatif, bercerita, bernyanyi, hingga aktivitas kelompok.

Menurut Berton, pendekatan tersebut penting untuk membantu anak-anak menghadapi tekanan psikologis setelah mengalami situasi bencana.

“Hal ini dilakukan untuk membantu anak-anak mengekspresikan perasaan serta mengurangi kecemasan dan tekanan akibat situasi bencana,” katanya

Selain trauma healing, anak-anak pengungsi juga bisa memanfaatkan perpustakaan keliling yang hadir di lokasi pengungsian.

Layanan tersebut memberikan alternatif kegiatan bagi anak-anak selama berada di posko, sekaligus membantu menjaga aktivitas belajar dan bermain di tengah situasi darurat. Perpustakaan keliling itu didukung oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka.

Berton berharap dukungan psikososial bagi pengungsi, terutama anak-anak, dapat terus berlangsung selama masyarakat masih tinggal di lokasi pengungsian.

Menurutnya, keberlanjutan pendampingan menjadi bagian penting dari proses pemulihan masyarakat setelah bencana. Anak-anak sebagai salah satu kelompok rentan membutuhkan perhatian agar dampak psikologis akibat bencana tidak berlarut-larut.

“Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung proses pemulihan masyarakat terdampak bencana, terutama kelompok rentan seperti anak-anak,” kata Berton. (ayb)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Byeon Woo-seok Sapa Penggemar Indonesia di Jakarta November 2026

BRIEF.ID – Kabar gembira bagi para penggemar aktor Korea...

Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi US$453,4 Miliar di Kuartal II 2026, Terbanyak dari Pemerintah dan BI

BRIEF.ID - Bank Indonesia (BI) menyampaikan utang luar negeri...

IHSG Melonjak Lebih dari 1% Usai Libur HUT ke-81 Kemerdekaan RI

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa...

Rupiah Melemah Imbas Harga Minyak Dunia Melonjak

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah melemah terhadap dolar...