BRIEF.ID – Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) membeberkan hasil survei terbarunya di mana Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi lebih unggul jauh di atas Presiden Prabowo Subianto jika pemilihan presiden hanya mempertemukan dua kandidat tersebut.
Dalam simulasi head to head yang telah dilakukan pada survei nasional 5-19 Juli 2026, Dedi Mulyadi memperoleh dukungan 59 persen, sementara Prabowo Subianto berada di angka 28,3 persen. Sebanyak 12,7 persen responden menyatakan belum menentukan pilihan atau tidak memberikan jawaban.
Temuan ini sekaligus memperlihatkan perubahan signifikan dalam preferensi pemilih dibanding hasil survei beberapa bulan sebelumnya. Data tren SMRC juga memperlihatkan elektabilitas Dedi Mulyadi dalam simulasi dua nama terus mengalami peningkatan dalam empat bulan terakhir.
Pada survei Februari-Maret 2026, Dedi Mulyadi memperoleh dukungan 42,6 persen. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 59 persen pada survei Juli 2026 atau bertambah 16,4 poin persentase.
Sebaliknya, elektabilitas Prabowo Subianto menunjukkan arah yang berlawanan. Dukungan terhadap presiden petahana turun dari 50,5 persen pada Februari-Maret 2026 menjadi 28,3 persen pada Juli 2026 atau merosot 22,2 poin persentase.
Perubahan itu membuat selisih elektabilitas kedua tokoh melebar hingga lebih dari 30 poin persentase dalam simulasi dua kandidat.
Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani mengatakan bahwa hasil survei tersebut menunjukkan adanya perubahan preferensi politik masyarakat yang semakin terlihat apabila responden hanya dihadapkan pada dua nama calon presiden.
“Dalam simulasi dua nama, Dedi Mulyadi memperoleh dukungan sebesar 59 persen dan unggul signifikan atas Prabowo Subianto yang memperoleh 28,3 persen. Sebanyak 12,7 persen responden menyatakan belum menentukan pilihan atau tidak menjawab,” tuturnya dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (29/7).
Menurut Deni, tren yang terjadi selama empat bulan terakhir juga memperlihatkan arah pergeseran dukungan publik. “Dalam periode empat bulan terakhir, elektabilitas Prabowo dalam simulasi dua nama turun dari 50,5 persen menjadi 28,3 persen. Sebaliknya, elektabilitas Dedi Mulyadi meningkat dari 42,6 persen menjadi 59 persen,” katanya.
Simulasi dua nama merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengukur kekuatan elektoral apabila pemilih hanya dihadapkan pada dua kandidat yang bersaing secara langsung.
Hasil survei SMRC kali ini menunjukkan Dedi Mulyadi telah berhasil mengonsolidasikan dukungan pemilih lebih besar dibanding Prabowo Subianto dalam skenario tersebut.
Meski demikian, masih terdapat 12,7 persen responden yang belum menentukan pilihan. Kelompok pemilih ini dinilai masih berpotensi memengaruhi dinamika elektabilitas apabila kontestasi politik terus berkembang.
Survei nasional SMRC dilaksanakan pada 5-19 Juli 2026 terhadap 749 responden yang memiliki hak pilih. Sebanyak 605 responden diwawancarai melalui telepon, sedangkan 144 responden diwawancarai secara tatap muka untuk mengakomodasi warga yang tidak memiliki telepon seluler.
Pengambilan sampel menggunakan metode double sampling dan stratified multistage random sampling dengan margin of error ±3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. (ayb)


