BRIEF.ID – Kualitas kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto hanya mendapat skor 5,1 dari skala 0–10, sedangkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memperoleh nilai 4,4.
Keduanya berada di bawah Mahfud MD yang meraih skor tertinggi yaitu sebesar 7,6 dalam studi opinion leaders yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada September 2026.
Hasil studi dipaparkan pendiri SMRC, Prof. Saiful Mujani, dalam presentasi bertajuk “Kepemimpinan Nasional Demokratik-Transformatif: Survei Opinion Leaders” di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Dalam penilaian terhadap 31 tokoh nasional, Mahfud MD menempati posisi teratas dengan skor 7,6. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memperoleh nilai 7,0, setara dengan sejumlah tokoh lain, termasuk Basuki Tjahaja Purnama, Anies Baswedan, Zainal Arifin Mochtar, dan Pramono Anung Wibowo.
Sementara itu, skor Prabowo hanya sebesar 5,1 menempatkannya di kelompok bawah dalam daftar penilaian tersebut.
Adapun Gibran memperoleh skor 4,4, hanya berada di atas Kaesang Pangarep yang mencatatkan nilai 4,0. Hasil ini juga telah memperlihatkan perbedaan penilaian antara sejumlah tokoh yang dievaluasi oleh para responden.
Salah satu catatan penting dalam penilaian terhadap Prabowo adalah komitmennya terhadap profesionalisme TNI dan Polri. Pada aspek ini, Prabowo memperoleh skor 4,2, yang menurut Saiful menjadi nilai terendahnya. Skor tersebut sama dengan Kaesang Pangarep dan merupakan yang terendah di antara seluruh tokoh pada indikator tersebut.
Penilaian itu relevan dengan pandangan responden mengenai pemisahan fungsi pertahanan dan keamanan. Sebanyak 84% opinion leaders menilai komitmen agar TNI berfokus pada pertahanan dan Polri pada keamanan serta ketertiban masyarakat sebagai kriteria yang sangat penting bagi calon presiden.
Pada indikator lain, Prabowo memperoleh skor 4,9 untuk empati, 5,1 untuk kapabilitas, 5,3 untuk komitmen terhadap politik luar negeri bebas aktif, 5,5 untuk kemampuan memimpin, serta 5,8 untuk sikap pluralis-inklusif. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penilaian terhadap kepemimpinannya bervariasi menurut aspek yang diukur.
Adapun Gibran mendapat skor 3,7 untuk kapabilitas atau kompetensi, menjadi nilai terendah kedua setelah Kaesang yang memperoleh 3,3. Untuk indikator lain, skor Gibran berkisar antara 4,0 pada integritas dan 5,1 pada sikap pluralis-inklusif.
Secara terperinci, Gibran memperoleh skor 4,2 untuk empati, 4,3 untuk kemampuan memimpin, 4,5 untuk komitmen terhadap profesionalisme TNI-Polri, serta 4,7 untuk komitmen terhadap politik luar negeri bebas aktif. Penilaian ini menggambarkan persepsi responden terhadap berbagai dimensi kepemimpinannya, bukan pengukuran langsung atas kinerja pemerintahan.
Sebaliknya, Mahfud MD dinilai memiliki kualitas kepemimpinan demokratik-transformatif tertinggi di antara 31 tokoh yang dievaluasi. Ia meraih skor 7,6 untuk kapabilitas, 7,3 untuk empati, 7,7 untuk sikap pluralis-inklusif, serta 7,6 untuk kemampuan memimpin.
Mahfud juga mendapat skor tertinggi dalam komitmen terhadap profesionalisme TNI-Polri, yakni 7,8. Sementara pada indikator politik luar negeri bebas aktif, ia memperoleh skor 7,7, sedikit di bawah Retno Marsudi yang meraih 7,8.
Dedi Mulyadi juga memperoleh penilaian relatif tinggi, terutama dalam aspek empati, inklusivitas, dan kemampuan memimpin. Gubernur Jawa Barat tersebut mendapat skor 7,1 untuk empati, 7,2 untuk sikap pluralis-inklusif, serta 7,3 untuk kemampuan memimpin. Nilai kemampuan memimpin itu merupakan posisi ketiga tertinggi setelah Mahfud MD dan Basuki Tjahaja Purnama.
Pada indikator lainnya, Dedi memperoleh skor 6,7 untuk kapabilitas, 6,8 untuk komitmen terhadap politik luar negeri bebas aktif, serta 6,5 untuk profesionalisme TNI-Polri. Hasil tersebut menempatkannya di atas Prabowo dan Gibran dalam skor rata-rata kualitas kepemimpinan pada studi ini.
“Pemilih pada umumnya tidak cukup punya informasi untuk menilai calon presiden secara mendalam. Karena itu kami bertanya kepada kelompok yang relatif lebih tahu tentang tokoh-tokoh ini. Penilaian mereka diharapkan menjadi bahan pertimbangan pemilih agar memilih pemimpin yang bervisi demokratik-transformatif,” tutur Saiful
SMRC menegaskan bahwa hasil studi ini bersifat deskriptif dan tidak dapat digeneralisasi sebagai representasi seluruh opinion leaders di Indonesia.
Studi yang dilakukan pada September 2026 tersebut melibatkan 200 responden, terdiri atas 166 akademisi atau ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu dan 34 jurnalis, karena tidak tersedia daftar populasi opinion leaders secara nasional, responden dipilih menggunakan teknik snowballing, terutama melalui media massa nasional dan daerah.
Sebanyak 149 responden bersedia namanya dipublikasikan. Dengan demikian, skor yang dihasilkan perlu dibaca sebagai persepsi kelompok responden yang diteliti, bukan sebagai ukuran mutlak kualitas kepemimpinan ataupun gambaran pendapat seluruh masyarakat Indonesia. (ayb)


