Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp17.938 per Dolar AS, Tersengat Lonjakan ULN Indonesia

BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis (15/10/2026), akibatv tersengat lonjakan utang luar negeri (ULN) Indonesia.

Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kurs rupiah hari ini ditutup melemah 0,20% atau 35 poin menjadi Rp17.938 per dolar AS dari level sebelumnya Rp17.903 per dolar AS.

Pelemahan rupiah dipengaruhi sentimen data ULN Indonesia, yang mencapai US$459,3 miliar pada Agustus 2026, dan tercatat menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah (all time high).

Bank Indonesia menyatakan, utang luar negeri Indonesia pada Agustus 2026 naik 5,6% secara tahunan atau year-on-year (yoy), dan didominasi utang jangka panjang.

Lonjakan utang luar negeri Indonesia terutama dari pemerintah maupun BI. Sedangkan utang luar negeri swasta justru mengalami pernurunan atau terkontraksi.

Adapun osisi utang luar negeri pemerintah pada Agustus 2026 tercatat mencapai US$ 220,9 miliar atau tumbuh 3,3% dibandingkan periode sama tahun lalu (yoy).

Sedangkan posisi ULN bank sentral mencapai US$42,8 miliar, didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen pada instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Hal itu, sejalan dengan strategi operasi moneter pro-market BI dalam mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

Hal itu, menjadi sorotan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia, di tengah tekanan eksternal seiring ancaman krisis energi, dan inflasi global yang tinggi, yang telah menyebabkan defisit fiskal.

Pelaku pasar juga mencermati perkembangan arus modal asing dan kebutuhan valuta asing, yang dapat mempengaruhi keseimbangan permintaan dan penawaran dolar AS di dalam negeri.

Sementara dari eksternal, pelemahan rupiah hari ini dipengaruhi lonjakan harga minyak dunia dan inflasi AS per September 2026. US Bureau of Labor Statistics melaporkan inflasi AS secara tahunan atau year-on-year (yoy) sebesar 3,7% per September 2026.

Angka tersebut meningkat dari inflasi AS per Agustus 2026 sebesar 3,4% (yoy), bahkan lebih tinggi dari ekspektasi pasar yang sebesar 3,6% (yoy).

Sementara inflasi inti (core) AS secara tahunan adalah 2,6% (yoy), lebih tinggi dari posisi Agustus 2026 yang sebesar 2,4% (yoy), dan melebihi proyeksi konsensus pasar yang sebesar 2,5%.

Lonjakan inflasi AS pada September 2026, meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed atau Fed Funds Rate (FFR).

Konsensus pasar bahkan memperkirakan The Fed kemungkinan akan memperketat kebijakan moneter dengan menaikkan FFR sebesar 50 basis poin (Bps) pada akhir Desember 2026.

Kondisi tersebut berpotensi mendorong aliran modal menuju aset berdenominasi dolar AS dan membatasi penguatan mata uang negara berkembang (emerging market), termasuk rupiah. (Jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Survei SMRC: Nilai Kepemimpinan Mahfud MD Mengalahkan Prabowo dan Gibran

BRIEF.ID – Kualitas kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto hanya mendapat...

IHSG Hari Ini Ditutup Merosot ke Level 5.863, Saham Emiten Prajogo Pangestu Ramai Dilepas

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa...

Utang Luar Negeri Indonesia US$ 459,3 Miliar per Agustus 2026, Tertinggi Sepanjang Sejarah

BRIEF.ID - Utang luar negeri (ULN) Indonesia tercatat mencapai...

Letjen Kristomei Sianturi Resmi Dilantik sebagai Kepala BNPB

BRIEF.ID – Presiden Prabowo Subianto melantik Letjen TNI Kristomei...