BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) merosot seiring saham-saham emiten (perusahaan tercatat) milik Prajogo Pangestu ramai dilepas investor.
Pada akhir perdagangan hari ini, Kamis (15/10/2026), IHSG ditutup merosot 1,33% atau 79,24 poin ke level 5.917. Sebelumnya pada awal perdagangan, IHSG dibuka melemah 0,44% atau 25,89 poin ke level 5.917.
Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG terus bergerak di zona merah, dengan menyentuh level tertinggi di 5.917, dan level terendah di 5.804.
Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 567 saham turun harga, 108 saham naik harga, dan 120 saham tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.
Volume saham yang diperdagangkan mencapai 35,253 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.691.580 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp13,529 triliun.
IHSG sempat terkoreksi hingga lebih dari 2%, namun aksi borong saham-saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berkapitalisasi besar mampu menopang IHSG dari kejatuhan lebih dalam.
Meski demikian, IHSG masih mengalami koreksi, seiring aksi jual yang dilancarkan investor terhadap saham-saham emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu.
Seperti diketahui, ada 6 emiten milik Prajogo Pangestu ataupun yang terafiliasi, yang tercatat di BEI. Berikut harga keenam saham tersebut saat penutupan perdagangan hari ini, Kamis (15/10/206):
1. PT Barito Pacific Tbk (BRTP), melemah 0,70% atau Rp10 menjadi Rp1.420 per lembar.
2. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), merosot 6,03% atau Rp140 menjadi Rp2.180 per lembar.
3. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), ambruk 5,67% atau Rp85 menjadi Rp1.415 per lembar.
4. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), turun 5,26% atau Rp35 menjadi Rp630 per lembar.
5. PT Petrosea Tbk (PTRO), anjlok 4,85% atau Rp200 menjadi Rp3.920 per lembar.
6. PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), terkoreksi 5,20% atau Rp26 menjadi Rp474 per lembar.
Pelemahan IHSG hari ini dipengaruhi kenaikan harga minyak dunia, dan lonjakan inflasi Amerika Serikat (AS) yang mendorong arus modal keluar (capital outflow) dari emerging market termasuk Indonesia.
Selain itu, pelemahan IHSG juga dipicu data utang luar negeri (ULN) Indonesia yang melonjak 5,6% menjadi US$459,3 miliar pada Agustus 2026.
Lonjakan ULN Indonesia tersebut, dipengaruhi peningkatan ULN pemerintah dan bank sentral, sementara ULN swasta justru mengalami penurunan.
Hal itu, memicu kekhawatiran investor terhadap kondisi fundamental perekonomian Indonesia, seiring tingginya lonjakan inflasi dan utang luar negeri, yang akan semakin memperlebar defisit fiskal. (Jea)


