Survei SMRC: Hanya 48 Persen Masyarakat Menilai Indonesia Menuju Arah yang Benar

BRIEF.ID – Persepsi publik bahwa Indonesia bergerak ke arah yang benar merosot tajam selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan, proporsi masyarakat yang menilai Indonesia menuju arah yang benar turun dari 83% pada Oktober 2024 menjadi 48% pada Oktober 2026.

Penurunan sebesar 35 poin persentase tersebut menjadi salah satu indikator memburuknya penilaian publik terhadap arah perjalanan bangsa Indonesia. Data ini menunjukkan bahwa optimisme masyarakat terhadap kondisi negara juga mengalami tekanan selama dua tahun pemerintahan Prabowo.

Temuan itu berasal dari survei nasional SMRC yang dilaksanakan pada 1-10 Oktober 2026. Hasilnya disampaikan pendiri SMRC, Saiful Mujani, dalam program Bedah Politik bertajuk “Dua Tahun Prabowo: Publik Nilai Indonesia ke Arah yang Salah” yang ditayangkan melalui kanal YouTube SMRC TV pada Selasa (13/10/2026).

Dalam presentasinya, Saiful menyoroti besarnya penurunan persepsi positif masyarakat terhadap arah negara. “Penurunan persepsi positif arah negara ini terbesar sepanjang 25 tahun terakhir,” tutur Saiful.

Pernyataan itu menempatkan penurunan optimisme publik sebagai perkembangan penting dalam evaluasi perjalanan politik Indonesia. Meski demikian, temuan survei ini juga perlu dibaca sebagai gambaran persepsi masyarakat, bukan penilaian tunggal yang secara langsung membuktikan keberhasilan atau kegagalan seluruh kebijakan pemerintah.

SMRC mengaitkan penurunan persepsi tersebut dengan merosotnya kepuasan publik terhadap kinerja presiden. Selain itu, masyarakat juga dinilai semakin negatif dalam melihat kondisi sosial-ekonomi, politik, dan penegakan hukum.

Kombinasi sejumlah faktor tersebut menunjukkan bahwa penilaian terhadap arah negara tidak berdiri sendiri. Persepsi masyarakat terhadap kepemimpinan nasional dapat berkaitan dengan pengalaman mereka menghadapi kondisi ekonomi, dinamika politik, serta kepercayaan terhadap penegakan hukum.

Dalam konteks pemerintahan Prabowo, temuan ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah untuk mengevaluasi kebijakan dan pelaksanaannya.

Namun sayangnya, SMRC tidak merinci indikator spesifik yang paling besar menyumbang penurunan persepsi publik maupun kelompok masyarakat yang mengalami perubahan penilaian paling tajam.

Data historis dalam grafik survei SMRC memperlihatkan bahwa persepsi positif terhadap arah perjalanan bangsa mengalami fluktuasi sebelum mencapai 83% pada Oktober 2024.

Setelah itu, angkanya turun menjadi 48% pada Oktober 2026. Grafik tersebut juga menunjukkan kenaikan proporsi responden yang menilai Indonesia bergerak ke arah yang salah pada periode yang sama.

Perubahan itu memperlihatkan pergeseran penilaian masyarakat dalam rentang dua tahun. Meski begitu, untuk mengetahui penyebab perubahan secara lebih mendalam, diperlukan pembacaan bersama terhadap tren ekonomi, evaluasi kebijakan pemerintah, serta indikator kepuasan publik lainnya.

Survei SMRC melibatkan 1.213 responden yang merupakan warga negara Indonesia berhak memilih, yakni berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah saat survei dilakukan. Sampel dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan kepemilikan telepon seluler untuk menjangkau responden dengan karakteristik berbeda.

Pada kelompok pemilik telepon seluler, sebanyak 1.013 responden dipilih secara acak menggunakan metode double sampling dan diwawancarai melalui telepon.

Sementara itu, sebanyak 200 responden yang tidak memiliki telepon seluler dipilih menggunakan metode stratified multistage random sampling dan diwawancarai secara tatap muka.

SMRC menyebutkan bahwa survei tersebut memiliki margin of error sekitar plus-minus 2,9% pada tingkat kepercayaan 95%, dengan asumsi simple random sampling. Angka ini merupakan estimasi ketidakpastian statistik dan tidak menghilangkan kemungkinan adanya kesalahan lain dalam proses survei.

Hasil survei tersebut menjadi catatan bagi pemerintahan Prabowo menjelang evaluasi dua tahun kepemimpinannya. Penurunan persepsi positif hingga 35 poin persentase menunjukkan tantangan dalam mempertahankan optimisme masyarakat, meskipun penjelasan mengenai penyebabnya perlu ditopang data yang lebih terperinci. (ayb)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

RAPBD DKI Jakarta 2027 Naik Jadi Rp82,89 T, Pemprov Siapkan Obligasi Daerah Rp4,23 T

BRIEF.ID – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengajukan Rancangan...

Banjir Bandang Padang: Tanggul Darurat 200 Meter Rampung, Normalisasi Sungai Dikebut

BRIEF.ID - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) merampungkan pembangunan tanggul...

Indonesia Kirim 103 Atlet, Bidik 10 Besar Asian Para Games 2026 di Nagoya

BRIEF.ID – Kontingen Indonesia resmi dilepas untuk berlaga pada...

IHSG Hari Ini Masih Melemah, Sempat Terhempas ke Level 5.800

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa...