BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah melemah terbatas terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (13/10/2026), imbas tekanan lonjakan harga minyak dunia seiring eskalasi konflik Timur Tengah.
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, kurs rupiah dibuka melemah 0,15% atau 26 poin menjadi Rp17.939 per dolar AS dibandingkan level sebelumnya Rp17.913 per dolar AS.
Seiring jalannya perdagangan, rupiah bergerak fluktuatif. Hingga pukul 11:30 WIB, nilai tukar rupiah terpantau kembali tertekan ke level Rp17.929 per dolar AS, melemah 0,08% atau 16 poin dari level Rp17.913 pada penutupan perdagangan Senin (12/10/2026).
Pelemahan rupiah hari ini dipengarui eskalasi konflik Timur Tengah antara militer Arab Saudi dan kelompok militan Houthi Yaman. Kedua pihak saling menyerang dengan menggunakan rudal dan pesawat nirawak, sehingga memicu kekhawatiran terkait gangguan distribusi minyak mentah dari kawasan Teluk.
Konflik tersebut menyebabkan kontrak berjangka untuk harga minyak dunia jenis Brent naik 1,84% menjadi US$106,65 per barel pada penutupan kemarin. Sedangkan kontrak berjangka untuk harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik 2,06% ke level US$93,74 per barel.
Kenaikan harga minyak membuat pasar keuangan global kembali bergolak, seiring kekhawatiran lonjakan inflasi global akibat kenaikan harga energi.
Hal itu, membuat bank-bank sentral akan fokus mengendalikan inflasi, dengan menerapkan kebijakan moneter berupa suku bunga tinggi (kenaikan suku bunga).
Dampaknya, indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah atau US Treasury kembali meningkat, seiring aksi borong yang dilakukan investor untuk mengamankan aset.
Sebaliknya, mata uang dan pasar saham Asia pada sesi pagi perdagangan hari ini, mayoritas tertekan ke zona merah, seiring meningkatnya arus modal keluar (capital outflow).
Selain itu, pelemahan rupiah juga dipicu rumor seputar sanksi denda yang akan dijatuhkan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap sejumlah emiten (perusahaan tercatat) terkait transparansi kepemilikan dan likuiditas harga saham.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, pergerakan nilai tukar rupiah hari ini diperkirakan berada di kisaran Rp17.850-Rp18.000 per dolar AS, dengan kecenderungan melemah terbatas. (Jea)


