BRIEF.ID – Rusia dikabarkan berencana memperpanjang larangan ekspor solar (diesel) hingga Oktober 2026, seiring kembali memanasnya konflik geopolitik dengan Ukraina. Hal itu, membuat krisis energi global kembali mengancam.
Sebelumnya, pada Juli 2026, Rusia mengumumkan membatasi ekspor solar hingga September 2026, sebagai reaksi atas serangan yang dilakukan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia.
Seiring dengan kembali memanasnya konflik geopolitik antarkedua negara pada pekan lalu, Pemerintah Rusia dikabarkan sedang mempertimbangkan perpanjangan pembatasan ekspor solar hingga satu bulan lagi, dari batas waktu September 2026.
“Larangan ekspor disel kemungkinan diperpanjang. Kini keputusan tinggal masalah durasinya, apakah selama satu bulang atau mungkin lebih lama lagi,” kata sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, namun menolak disebut namanya, seperti dikutip Bloomberg, Selasa (22/9/2026).
Pertimbangan Rusia memperpanjang larangan ekspor solar, disebabkan produksi kilang minyak negara itu merosot tajam seiring serangan Ukraina.
Pada pekan lalu, Kementerian Energi Rusia melakukan pertemuan untuk membahas kemungkinan memperpanjang kembali larangan ekspor solar, karena produksi yang belum kembali pulih di sejumlah kilang minyak yang hancur terkena serangan Ukraina.
Sebelum melakukan pembatasan ekspor diesel, Rusia tercatat menjadi negara yang menyumbang sekitar 10% dari pasokan diesel global, yang didistribusikan melalui jalur laut.
Kabar mengenai rencana Rusia memperpanjang larangan ekspor solar, meningkatkan kekhawatiran terkait krisis energi global. Pasalnya, pembatasan ekspor dieel dari Rusia semakin memperparah dampak gangguan pasokan minyak dan gas (migas) akibat konflik Timur Tengah.
Hal itu, telah mendorong kenaikan harga solar dunia. Saat ini, harga solar berada di kisaran US$84 per barel di Eropa. Angka tersebut, jauh lebih tinggi dibandingkan US$28 per barel pada akhir Februari 2026, sebelum Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan ke Iran, dan memicu konflik Timur Tengah, yang berujung pada penutupan Selat Hormuz, yang merupakan jalur distribusi utama migas dunia.
Baru-baru ini, Presiden AS, Donald Trump, menyampaikan bahwa kenaikan harga solar dipicu konflik geopolitik Rusia-Ukraina, bukan konflik Timur Tengah antara AS dan Iran.
Menurut Trump, Ukraina dan Rusia juga telah sepakat menghentikan serangan ke aset energi satu sama lain. Meski demikian, belum ada konfirmasi dari kedua negara terkait kesepakatan tersebut, dan aksi saling serang terus berlanjut.
Data yang dihimpun Bloomberg menunjukkan konflik Timur Tengah telah mengurangi pasokan solar global secara signifikan dibandingkan konflik geopolitik Rusia-Ukraina. (Jea)


