BRIEF.ID – Menteri Luar Negeri Sugiono mendesak delapan negara Arab dan Islam mengambil langkah konkret untuk segera mendorong perdamaian Palestina di tengah kondisi Jalur Gaza yang terus memburuk.
Desakan itu disampaikan Sugiono dalam Ministerial Coordination Meeting of the Group of Eight Arab and Islamic Countries yang digelar di sela-sela High-Level Week Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (SMU PBB) ke-81, Senin (21/9/2026) waktu New York.
Sugiono menilai komitmen politik terhadap perdamaian belum cukup apabila tidak diikuti perubahan nyata bagi masyarakat Palestina, khususnya warga Gaza yang menghadapi krisis kemanusiaan.
“Kita berkomitmen untuk tegaknya perdamaian, tetapi rakyat Palestina belum melihat perubahan nyata. Dalam jangka pendek, yang mereka butuhkan adalah mengalirnya bantuan kemanusiaan, gencatan senjata, dan berhentinya pembunuhan di Gaza,” tuturnya dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (22/9).
Maka dari itu, Indonesia terus mendorong negara-negara anggota Group of Eight untuk segera merumuskan dan menjalankan langkah bersama yang dapat memberikan dampak langsung bagi rakyat Palestina.
Sugiono juga meminta negara-negara anggota kelompok tersebut menjaga kesatuan pesan dalam berbagai forum internasional. Menurutnya, konsistensi sikap diperlukan agar tekanan diplomatik untuk mendorong perdamaian tidak kehilangan momentum.
“Kita harus menyampaikan pesan yang kuat. Kita ingin melihat bahwa upaya yang kita lakukan benar-benar menghasilkan kemajuan dan perubahan bagi rakyat Palestina,” katanya.
Selain bantuan kemanusiaan dan gencatan senjata, Indonesia menekankan pentingnya keterlibatan aktif masyarakat Palestina dalam proses perdamaian. Partisipasi tersebut dinilai menjadi salah satu unsur penting untuk membangun perdamaian yang berkelanjutan.
Indonesia juga menyatakan akan terus membangun pendekatan dengan berbagai mitra internasional untuk mendorong kemajuan proses perdamaian Palestina. Langkah diplomasi tersebut akan dilakukan melalui berbagai forum internasional yang membahas isu perdamaian dan keamanan.
Pertemuan Group of Eight kali ini merupakan kelanjutan dari koordinasi delapan negara Arab dan Islam yang diinisiasi pada High-Level Week SMU PBB ke-80 pada 2025. Forum tersebut dibentuk untuk memperkuat koordinasi dan mencari langkah konkret terkait penyelesaian persoalan Palestina.
Group of Eight terdiri atas Indonesia, Arab Saudi, Mesir, Yordania, Qatar, Uni Emirat Arab, Türkiye, dan Pakistan. Kedelapan negara tersebut memiliki posisi strategis dalam upaya diplomatik untuk mendorong penyelesaian konflik Palestina.
Bagi Indonesia, isu Palestina menjadi salah satu agenda utama dalam keikutsertaan delegasi RI pada High-Level Week SMU PBB tahun ini. Pemerintah juga menempatkan pemulihan dan rekonstruksi Gaza sebagai bagian dari komitmen Indonesia terhadap perdamaian dunia.
Indonesia juga menyebut perannya dalam upaya perdamaian semakin substantif, termasuk melalui keanggotaannya di Board of Peace. Pada saat yang sama, pemerintah terus menggunakan forum internasional untuk menggalang dukungan terhadap Palestina.
Di luar isu Palestina, delegasi Indonesia dijadwalkan mengikuti sejumlah pertemuan tingkat tinggi dan tingkat menteri yang membahas pembangunan, perubahan iklim, serta penguatan multilateralisme.
Momentum Sidang Majelis Umum PBB tahun ini juga akan dimanfaatkan Indonesia untuk meluncurkan kampanye pencalonan sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB periode 2029–2030. Pencalonan tersebut sebelumnya telah disampaikan Sugiono dalam Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri pada Januari 2026. (ayb)


