BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah offshore masih betah di level Rp17.800 per dolar Amerika Serikat (AS), pada perdagangan hari ini, Kamis (28/5/2026).
Selama pasar keuangan Indonesia libur Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, pada 27-28 Mei 2026, kurs rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) terus bergerak di level Rp17.800 per dolar AS bahkan hampir menyentuh level Rp17.900 per dolar AS.
Seperti dilansir Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar luar negeri ditutup melemah 0,25% di level Rp7.886 per dolar AS, pada perdagangan Rabu (27/5/2026).
Pada hari ini, nilai tukar rupiah dibuka stagnan namun perlahan bergerak menguat ke level Rp17.846 per dolar AS. Hingga pukul 14:30 WIB, rupiah terpantau berada di kisaran level Rp17.849 per dolar AS.
Pelemahan rupiah masih dipengaruhi pergerakan harga minyak dunia, yang kembali menguat seiring belum tercapainya kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengakhiri konflik Timur Tengah.
Pada sesi pagi perdagangan hari ini, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik mendekati US$90 per barel, sedangkan Brent yang menjadi acuan harga minyak dunia berada di kisaran US$94 per barel.
Pergerakan rupiah offshore yang telah menembus level Rp17.800 membuat investor khawatir nilai tukar rupiah akan kembali tertekan saat perdagangan seusai libur Hari Raya Idul Adha.
Pasar keuangan Indonesia akan kembali dibuka besok, Jumat (29/5/2026), setelah libur selama 2 hari. Sebelumnya, nilai tukar rupiah ditutup di level Rp17.789 per dolar AS, pada Selasa (26/5/2026).
Menanggapi kekhawatiran terkait kurs rupiah offshore yang telah menyentuh level Rp17.800, Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa memastikan tak perlu melalukan revisi atau menghitung ulang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurut dia, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sebelumnya sudah melakukan simulasi terhadap berbagai skenario ekonomi, termasuk memperhitungkan saat harga minyak dunia mencapai US$100 per barel.
“Kita udah hitung. Pada waktu simulasi (minyak dunia) US$100 per barel itu, asumsi rupiahnya juga sudah kita perhitungkan. Jadi enggak ada masalah, saya enggak harus hitung ulang APBN-nya,” ujar Purbaya, seperti dikutip Antara, Rabu (27/5/2026).
Dia mengungkapkan, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) terus berkoordinasi untuk menjaga stabilitas rupiah, yang terus tertekan akibat lonjakan harga minyak dunia dan dolar AS.
Kemenkeu melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah melalui pembelian obligasi agar imbal hasil (yield) tetap terjaga dan tetap menarik bagi investor.
Selain itu, lanjutnya, pemerintah juga telah menyiapkan langkah lanjutan untuk memperkuat nilai tukar rupiah, agar sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia yang cukup baik.
“Ke depan akan ada tindakan pemerintah lagi yang akan membantu menaikkan rupiah dengan signifikan,” ungkap Purbaya. (jea)


