BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah menguat terbatas terhadap dolar Amerika Serikat (AS) saat harga minyak dunia melonjak seiring konflik Timur Tengah yang kembali memanas.
Berdasarkan data transaksi antarbank hari ini, Senin (20/4/2026), kurs rupiah dibuka menguat 0,20% atau 34 poin menjadi Rp17.155 per dolar AS dibandingkan level sebelumnya Rp17.189 per dolar AS.
Sementara di pasar spot, nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,23% ke level Rp17.150 per dolar AS. Hingga penutupan sesi I perdagangan pada pukul 12:00 WIB, nilai tukar rupiah terpantau berada di level Rp17.178 per dolar AS.
Penguatan rupiah, yang terbatas dipengaruhi lonjakan harga minyak dunia pada sesi pagi perdagangan hari ini. Minyak mentah jenis brent yang menjadi acuan melesat 5,48% ke US$95,36 per barel.
Selain itu, indeks dolar AS juga menguat ke level 98,35, sehingga membuat pergerakan mata uang kawasan Asia cenderung tertekan, antara lain Won Korea Selatan (-0,92%), Dolar Singapura (-0,24%), Yen Jepang (-0,14%), Ringgit Malaysia (-0,06%), dan Yuan Offshore (-0,05%).
Konflik Timur Tengah yang kembali berkecamuk membuat harga minyak dunia dan dolar AS kembali melambung, dan menekan pasar keuangan, serta komoditas logam mulia.
Iran kembali menutup Selat Hormuz pada Minggu (19/4/2026), sebagai respons atas serangan Israel ke Lebanon. Bagi Iran, serangan tersebut merupakan pelanggaran kesepakatan gencatan senjata.
Sementara itu, Angkatan Laut AS dilaporkan telah memberi tembakan dan menyita kapal kargo berbendera Iran, sehingga kapal-kapal meninggalkan Selat Hormuz untuk keamanan.
Dari dalam negeri, sentimen positif penguatan rupiah datang dari pengumuman PT Pertamina (Persero) yang menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi, yakni Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex mulai Sabtu (18/4/2026).
Keputusan pemerintah menaikkan harga BBM nonsubsidi dinilai positif mengurangi beban APBN untuk subsidi energi, meskipun kekhawatiran terkait pelebaran defisit anggaran masih tinggi seiring ketidakpastian situasi konflik Timur Tengah.
Hal ini, membuat Bank Indonesia (BI) memiliki ruang yang sempit untuk menurunkan suku bunga acuan atau BI-Rate. Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG-BI) pada pekan ini diperkirakan akan kembali mempertahankan BI-Rate.
Untuk perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah di pasar spot diperkirakan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah terbatas di kisaran Rp17.150 per dolar AS hingga Rp17.200 per dolar AS. (jea)


