Rupiah Menguat Terbatas Dipicu Harapan Berakhirnya Konflik Timur Tengah

BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah menguat terbatas pada Kamis (7/5/2026), dipicu harapan akan berakhirnya konflik Timur Tengah seiring kesepakatan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Berdasarkan data transaksi antarbank hari ini, kurs rupiah dibuka menguat 0,36% atau 62 poin menjadi Rp17.325 dolar AS dibandingkan level sebelumnya Rp17.387 per dolar AS.Sementara di pasar spot, nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,27% ke level Rp17.319 per dolar AS.

Meski demikian, penguatan rupiah perlahan menipis seiring kenaikan harga minyak dunia di pasar Asia. Hingga pukul 11:00 WIB, rupiah terpantau masih bergerak di zona hijau, dan berada di level Rp17.365 per dolar AS.

Pada perdagangan di pasar Asia hari ini, harga minyak mentah jenis Brent naik 1,12% ke level US$102,4 per barel. Sebelumnya, harga Brent rontok 7,83% menjadi US$101,27 per barel pada penutupan perdagangan Rabu (6/5/2026).

Penguatan rupiah dipicu keyakinan tercapainya kesepakatan perdamaian AS dan Iran untuk mengakhiri konflik Timur Tengah. Otoritas Iran dikabarkan sedang mempelajari proposal perdamaian terbaru dari AS.

Sementara AS memberi waktu 48 jam kepada Iran untuk merespon proposal perdamaian guna mengakhiri konflik Timur Tengah, yang pecah sejak 28 Februari 2026.

Melalui cuitan di media sosial, Presiden AS Donald Trump, menyatakan akan segera mengakhiri operasi militer dan membuka blokade di perairan Selat Hormuz.

Langkah tersebut, dilakukan karena AS meyakini Iran akan menyetujui syarat yang diberikan untuk kesepakatan perdamaian. “Dengan asumsi Iran sepakat memberikan apa yang sudah disepakati, yang mana itu mungkin sebuah asumsi besar,” tulis Trump, seperti dikutip Bloomberg, Kamis (7/5/2026).

Perkembangan terbaru itu, membuat pasar komoditas dan keuangan global kembali bergairah. Sejumlah mata uang negara-negara Asia, termasuk rupiah, dibuka menguat pada perdagangan hari ini.

Penguatan rupiah juga dtopang sentimen positif dari pasar surat utang (obligasi) yang menarik investor. Hal itu terlihat dari aksi beli masif surat utang negara (SUN) di hampir semua tenor, yang ditandai dengan turunnya imbal hasil.

SUN tenor jangka menengah, seperti tenor 4 tahun turun 2,3 bps ke 6,69%, disusul tenor 2 tahun turun 1,2 bps ke 6,33%. Tenor acuan 10 tahun juga mengalami penurunan imbal hasil 0,4 bps ke 6,73%. 

Meski demikian, tekanan aksi jual masih dialami SUN tenor jangka pendek. Pada hari ini, SUN tenor 1 tahun mengalami tekanan jual sehingga yield melonjak hingga 6,43%, tertinggi sejak Maret 2025.

Untuk perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah berpotensi melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini, dengan bergerak di kisaran Rp17.300 per dolar AS hingga Rp17.450 per dolar AS. (jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

IHSG Uji level 7.200, Saham BBNI aktif diburu Investor hingga Melesat 2,61%

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa...

KULT KREO 2026 Dorong Talenta Muda Manfaatkan Hak Cipta

BRIEF.ID – Gelaran KULT KREO 2026 akan menyemarakkan perhelatan...

Harga Emas Antam Naik Jadi Rp2.840.000 per Gram, Sinyal Perdamaian AS-Iran Makin Kuat

BRIEF.ID - Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang...

Industri Kosmetik RI Tumbuh Pesat, PERKOSMI Dorong Inovasi dan Standar Berkelanjutan

BRIEF.ID - Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (PERKOSMI) kembali menggelar...