BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) imbas keputusan Federal Reserve (The Fed) menahan suku bunga acuan atau Fed Funds Rate (FFR).
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interest Spot Dollar Rate (Jisdor), kurs rupiah ditutup melemah di level Rp17.793 per dolar AS pada sesi I perdagangan hari ini.
Sebelumnya di awal perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,53% atau 94 poin ke level Rp17.856 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.762 per dolar AS.
Pelemahan rupiah sejak awal perdagangan hari ini dipicu keputusan The Fed yang mempertahankan suku bunga acuan FFR di kisaran 3,5% hingga 3,75%.
Gubernur The Fed, Kevin Warsh, mengatakan keputusan mempertahankan FFR dilakukan dengan mempertimbangkan ancaman lonjakan inflasi, guncangan pasokan energi, hingga ketidakpastian geopolitik akibat konflik Timur Tengah.
“Langkah ini dilakukan untuk mempertahankan cadangan yang cukup dalam sistem perbankan dan mengatakan bahwa hal itu akan memberikan stabilitas harga,” kata Kevin Warsh, seperti dikutip Reuters, Kamis (18/6/2026).
Pernyataan hawkish Gubernur The Fed tersebut, mengindikasikan peluang penurunan suku bunga makin tipis, dan tren suku bunga tinggi akan bertahan lama, memupus harapan investor terkait peluang penurunan FFR setidaknya satu kali di tahun ini.
Hal itu, membuat indeks dolar AS melonjak hingga kembali menembus level 100, dan berimbas melemahkan bursa global, juga mata uang berbagai negara.
Selain rupiah, mayoritas mata uang Asia juga dibuka melemah terhadap dolar AS pada sesi pagi perdagangan hari ini, antara lain Won Korea Selatan, Ringgit Malaysia, Peso Filipina, Baht Thailand, Dolar Taiwan, dan Dolar Hong Kong.
Sementara dari dalam negeri, sentimen datang dari tertekannya pasar Surat Utang Negara (SUN), dan perkiraan bahwa Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG-BI) yang berakhir hari ini, akan memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate. (jea)


