BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah pada perdagangan awal pekan, Senin (26/10/2026), ditutup melemah imbas tekanan eksternal, seiring tingginya harga minyak, dan menjelang Rapat FOMC Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, kurs rupiah ditutup melemah 0,26% atau 47 poin menjadi Rp18.116 per dolar AS.
Sementara di pasar spot, nilai tukar rupiah pada akhir perdagangan hari ini ditutup melemah 0,30% atau 55 poin ke level Rp18.135 per dolar AS.
Pelemahan rupiah dipengaruhi tekanan eksternal seiring tingginya harga minyak, dan sorotan investor menjelang rapat FOMC The Fed, pada 27-28 Oktober 2026.
Harga minyak dunia jenis Brent yang masih tinggi di level US$115 per barel, seiring memanasnya konflik Timur Tengah antara pasukan militan Houthi Yaman dan Arab Saudi, memicu kekhawatiran terhadap krisis energi global.
Selain itu, investor juga mencermati rapat FOMC yang akan memutuskan kebijakan moneter The Fed, termasuk untuk suku bunga acuan atau fed Funds Rate.
Tingginya harga minyak, yang berimbas pada lonjakan biaya energi, diperkirakan menjadi pertimbangan bagi The Fed untuk menaikkan FFR.
Pelemahan rupiah juga mengikuti pergerakan mata uang Asia, yang mayoritas melemah terhadap dolar AS, antara lain Peso Filipina (-0,54%), Rupee India (-0,32%), Yen Jepang (-0,25%), Dolar Singapura (-0,13%), Won Korea Selatan (-0,11%), Baht Thailand (-0,10%), Dolar Hong Kong (-0,03%), dan Ringgit Malaysia (-0,01%).
Sementara dari dalam negeri, pelemahan rupiah dipicu arus modal keluar (capital outflow) dari pasar surat utang, dan pasar saham yang masih deras sepanjang Oktober 2026.
Surat Utang Negara (SUN) mencatat kenaikan imbal hasil (yield) di sebagian besar tenor, terutama jangka pendek. Tenor 1 tahun naik 1,4 bps menjadi 6,79%, disusul tenor 2 tahun naik 2,8 bps menjadi 6,92%, dan tenor 3 tahun naik 1,5 bps jadi 7,09%.
Sementara SUN tenor 10 tahun yang menajdi acuan, juga naik 1,3 bps menjadi 7,46%. Bahkan yield tenor 9 tahun berada di 7,5% setelah naik 2,4 bps.
Gejolak di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga belum mereda pascapengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mengusulkan penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market ke standalone market pada 16 Oktober 2026.
Hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi 1,22% atau 66,16 poin ke level 5.373, dengan lebih dari 500 saham turun harga. Tekanan jual terus dilancarkan investor terhadap saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps, sehingga membebani IHSG. (Jea)


