BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah ditutup turun tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS), karena masih terbeban lonjakan inflasi pangan, yang diperkirakan berlangsung hingga akhir tahun 2026.
Pada akhir perdagangan hari ini, Selasa (3/11/2026), kurs rupiah di pasar spot ditutup turun 0,02% atau 4 poin menjadi Rp18.160 per dolar AS dari level sebelumnya Rp18.156 per dolar AS.
Sementara berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia menunjukkan kurs rupiah ditutup menguat di level Rp18.148 per dolar AS dibandingkan level Rp18.161 per dolar AS pada perdagangan Senin (2/11/2026).
Pelemahan rupiah hari ini masih dipicu lonjakan inflasi Oktober 2026, yang naik menjadi 3,23% secara tahunan atau Year-on-Year (yoy) dibandingkan 2,86% pada Oktober 2025.
Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan Indeks Harga Konsumen (IHK) juga meningkat menjadi 112,56 pada Oktober 2026 dari 109,04 pada Oktober 2025.
Laju inflasi pada Oktober 2026 tercatat sebesar 0,22% secara bulanan atau month-to-month (mtm). Artinya, terjadi kenaikan IHK menjadi 112,56 pada Oktober 2026 dari 112,31 pada September 2026.
Tingginya inflasi Oktober 2026 terutama dipicu lonjakan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yang disumbangkan 7 komoditas pangan, yaitu cabai rawit, ikan segar, beras, minyak goreng, daging ayam ras, sigaret kretek mesin, dan daging sapi.
Inflasi pangan mencapai level tertinggi dalam lima bulan terakhir karena gangguan pasokan yang dipengaruhi fenomena El Nino, sehingga produksi dan distribusi sejumlah komoditas pangan terganggu.
Pelaku pasar memperkirakan fenomena kenaikan harga pangan akan terus berlanjut hingga akhir 2026, seiring tingginya kebutuhan Natal dan Tahun Baru, sementara pasokan cenderung terbatas.
Selain itu, pelemahan rupiah juga dipengaruhi surplus neraca perdagangan Indonesia yang menipis seiring pertumbuhan impor yang lebih tinggi daripada ekspor. (Jea)


