BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Kamis (23/7/2026), karena tertekan lonjakan harga minyak dunia, yang kian mendekati level US$100 per barel.
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kurs rupiah ditutup melemah 0,07% atau 14 poin di level Rp17.931 per dolar AS dibandingkan level sebelumnya Rp17.917 per dolar AS.
Sebelumnya pada awal perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis 0,02% atau 3 poin menjadi Rp17.914 per dolar AS dibandingkan level Rp17.917 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu (22/7/2026).
Sementara di pasar spot nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,2% ke level Rp17.915 per dolar AS, imbas tekanan lonjakan harga minyak dunia.
Seperti dilansir Reuters hari ini, harga minyak dunia jenis Brent yang menjadi acuan melonjak ke level US$97,25 per barel, seiring makin memanasnya konflik Timur Tengah antara AS dan Iran.
Presiden AS, Donald Trump, menyatakan militer AS akan menyerang infrastruktur strategis Iran, seperti jembatan bahkan pembangkit listrik, setiap kali militer Iran menyerang kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Sebaliknya, Garda Revolusi Iran menyatakan satu kapal tanker minyak terbakar akibat ledakan saat berupaya melintasi jalur yang disebut telah dipasangi ranjau di bagian selatan Selat Hormuz.
Garda Revolusi Iran bahkan menegaskan Selat Hormuz kini berada di bawah kendali penuh Iran dan “ditutup sepenuhnya” selama operasi militer AS di kawasan Timur Tengah masih berlangsung.
Pelemahan rupiah juga dipengaruhi kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal, mengingat harga minyak dunia kembali melonjak mendekati level US$100 per barel.
Sepanjang tahun ini, rata-rata harga minyak dunia telah mencapai US$88 per barel, sementara asumsi dasar yang dijadikan acuan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah US$70 per barel.
Jika konflik Timur Tengah terus memanas, dan AS maupun Iran saling melancarkan serangan, maka dapat dipastikan pasokan minyak yang melintasi Selat Hormuz akan terganggu.
Hal itu, dapat memicu krisis energi global, yang berimbas pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), yang dapat menaikkan inflasi, dan memperlebar defisit APBN. (Jea)


