BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan rabu (17/6/2026), seiring investor memasang mode menunggu atau wait and see.
Hal itu, terkait dengan kepastian perdamaian Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta hasil rapat Komite Pasar Terbuka Federal atau Federal Open Market Comittee (FOMC) Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), pada pekan ini.
Pada akhir perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) ditutup melemah 0,22% atau 40 poin di level Rp17.765 per dolar AS.
Sebelumnya pada awal perdagangan hari ini, kurs rupiah Jisdor dibuka melemah 0,07% atau 13 poin di level Rp17.738 per dolar AS dibandingkan level sebelumnya yang Rp17.725 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi seiring sentimen negatif dari luar negeri terkait penandatanganan kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran untuk mengakhiri konflik Timur Tengah.
Draf kesepakatan perdamaian tersebut dikabarkan bocor, bahkan disebut-sebut telah dibagikan AS kepada delegasi negara-negara sekutu yang menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 Prancis pada 15-17 Juni 2026.
Dari draf yang beredar ke media dan dipublikasikan secara luas, tercantum 14 poin kesepakatan perdamaian, yang sebagian besar memuat komitmen terkait insentif atau kompensasi bagi Iran.
Iran hanya disyaratkan segera membuka Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi minyak dan gas dunia, serta menghentikan proyek nuklir, dan memusnahkan cadangan uranium.
Jika memenuhi syarat tersebut, AS akan mencabut blokade dari seluruh pelabuhan Iran, memberi izin perdagangan minyak Iran dalam waktu sesegera mungkin, hingga menjanjikan rehabilitasi ekonomi Iran dengan dana penjaminan sebesar US$300 miliar.
Meski demikian, Presiden AS, Donald Trump, membantah draf kesepakatan perdamaian dengan Iran telah bocor, dan menegaskan dokumen resmi akan dipublikasikan setelah penandatanganan dilakukan di Swiss pada 19 Juni 2026.
Kabar yang simpang siur tersebut, membuat pelaku pasar skeptis dengan penyelesaian konflik Timur Tengah, dan memilih memasang mode wait and see.
Selain itu, pelemahan rupiah juga dipengaruhi sikap pelaku pasar yang menunggu hasil rapat FOMC The Fed, yang antara lain akan memutuskan arah suku bunga acuan atau Fed Funds Rate (FFR).
FOMC The Fed menggelar rapat selama dua hari pada 16-17 Juni 2026. Hasil rapat FOMC The Fed akan diumumkan pada Rabu (17/6/2026) malam atau Kamis (18/6/2026) dini hari WIB.
Konsensus pasar dan ekonom memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan atau FFR di kisaran 3,75%, seiring tren lonjakan inflasi akibat dampak konflik Timur Tengah.
Meski demikian, Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, menghadapi tantangan yang tak mudah di tengah tekanan Presiden AS Donald Trump yang menginginkan pelonggaran kebijakan moneter termasuk menurunkan FFR.
Kondisi tersebut, membuat investor memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko sambil menunggu sinyal yang lebih jelas terkait kesepakatan perdamaian AS-Iran, dan suku bunga The Fed.
Alhasil, pasar keuangan lesu, ditandai dengan perdagangan valuta asing dan bursa saham yang berakhir di zona merah. Tak hanya rupiah, sejumlah mata uang Asia juga melemah terhadap dolar AS, antara lain Won Korea Selatan (-0,17), dan Peso Filipina (-0,08%). (Jea)


