BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah defensif terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah gejolak konflik Timur Tengah. Meski demikian, rupiah masih betah di level Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan akhir pekan, Jumat (31/7/2026).
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hingga pukul 11:45 WIB, kurs rupiah terpantau berada di level Rp18.074 per dolar AS.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah Jisdor hari ini dibuka menguat 0,20 menguat 37 poin atau 0,20 persen menjadi Rp18.074 per dolar AS dibandingkan Rp18.111 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (30/7/2026).
Sementara di pasar spot, kurs rupiah juga menguat 0,15% ke level Rp18.057 per dolar AS, seiring turunnya harga minyak dunia jenis Brent sebesar 0,92% ke US$88,21 per barel
Penguatan rupiah masih dipengaruhi arus modal masuk (capital inflow), seiring respons investor terhadap keputusan Federal Reserve (The Fed) menaha suku bunga acuan.
Hal itu, terlihat dari pasar Surat Utang Negara (SUN), yang masih mencatat aksi beli dari investor, karena imbal hasil (yield) yang ditawarkan cukup menarik. Berdasarkan data per 29 Juli 2026, investor mencatat pembelian SUN senilai US$31,5 juta.Â
Adanya aliran modal masuk ke pasar obligasi dapat menahan laju pelemahan rupiah di tengah gejolak konflik Timur Tengah, seiring serangan AS ke Iran, namun belum dapat menggerakkan rupiah kembali ke bawah Rp18.000 per dolar AS.
Untuk perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diprediksi masih defensif, dan bergerak di kisaran Rp18.050 per dolar AS, hingga Rp18.150 per dolar AS. (Jea)


