BRIEF.ID – Presiden Prabowo Subianto memastikan perekonomian Indonesia tetap kokoh di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Pemerintah juga memastikan disiplin fiskal tetap terjaga sebagai fondasi utama menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Di sisi fiskal, pemerintah menargetkan defisit RAPBN 2027 sebesar 2,40% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dengan asumsi PDB mencapai sekitar Rp27.987 triliun. Prabowo menilai disiplin fiskal tetap penting untuk menjaga kredibilitas Indonesia di mata investor sekaligus memberikan ruang pembiayaan bagi pembangunan.
Dalam pidato penyampaian Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang APBN Tahun Anggaran 2027 dan Nota Keuangan di hadapan Rapat Paripurna DPR RI, Jumat (14/8/2026), Prabowo mengatakan berbagai indikator ekonomi menunjukkan kondisi yang tetap solid meski dunia menghadapi perlambatan ekonomi, ketegangan geopolitik, dan gejolak pasar keuangan.
Capaian ekonomi pada Semester I – 2026 menjadi modal penting bagi pemerintah dalam menyusun RAPBN 2027 yang dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Capaian semester pertama tahun 2026 adalah pijakan kita dalam menyusun RAPBN tahun 2027. Untuk itu, arsitektur RAPBN tahun 2027 didesain tetap ekspansif secara kolaboratif, terarah, dan terukur untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dan sejahtera lebih cepat,” kata Prabowo.
Ia menegaskan bahwa penguatan koordinasi kebijakan menjadi kunci menjaga momentum pertumbuhan. Karena itu, sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, dan Danantara harus semakin erat dan efektif.
“Sinergi kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, dan Danantara harus bekerja sinergis dan semakin solid,” ujarnya.
Prabowo juga menekankan pentingnya mempercepat transformasi ekonomi menuju sektor-sektor yang memiliki nilai tambah tinggi guna memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global.
Selain itu, pemerintah akan memastikan berbagai program prioritas berjalan efektif, termasuk program perlindungan sosial yang andal untuk menjaga daya beli masyarakat serta pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai tulang punggung perekonomian nasional.
Dukungan terhadap kelompok produktif dan rentan juga akan terus diperkuat. Pemerintah, kata Presiden, berkomitmen meningkatkan keberpihakan kepada petani, nelayan, guru, dan tenaga kerja rentan agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara lebih merata.
Di sisi fiskal, pemerintah tetap menjaga prinsip kehati-hatian. Disiplin fiskal akan terus dipertahankan melalui pengelolaan anggaran yang kredibel, efisien, dan berkelanjutan sehingga ruang fiskal tetap memadai untuk mendukung pembangunan nasional.
Ia menegaskan, ketahanan ekonomi dan kepercayaan dunia terhadap Indonesia harus dijaga melalui konsistensi kebijakan dan kerja nyata.
“Dunia tidak hanya menilai apa yang kita umumkan, dunia menilai apa yang benar-benar kita laksanakan,” tegas Prabowo. (nov)


