BRIEF.ID – Babak perempat final Piala Dunia 2026 kembali menghadirkan wajah-wajah lama sepak bola dunia. Enam dari delapan tim yang lolos berasal dari Eropa. Sisanya adalah Argentina yang masih dipimpin Lionel Messi dan Maroko sebagai satu-satunya wakil Afrika.
Turnamen yang telah ada selama hampir seabad, Piala Dunia pertama digelar pada tahun 1930, telah diselenggarakan sebanyak 22 kali. Juaranya terdiri atas 12 dari Eropa, 10 dari Amerika Selatan, dan tidak ada dari wilayah lainnya secara gabungan.
Laga perempat final yang akan dimainkan adalah Prancis vs Maroko; Spanyol vs Belgia; Norwegia vs Inggris; dan Argentina vs Swiss.
Meskipun begitu, tampaknya beberapa pemain terbaik Eropa terkejut dengan betapa bagusnya Piala Dunia 2026.
“Saya pikir beberapa hal tidak mungkin dilakukan. Sepertinya saya salah,” kata bintang sepak bola Norwegia, Erling Haaland setelah menciptakan dua gol untuk mengalahkan Brasil untuk meraih tiket perempat final.
Haaland rupanya salah dalam arti yang baik. Tuan rumah turnamen salah dalam arti yang kurang baik. Saat ini, Kawasan Amerika Utara memiliki tiga kesempatan untuk meraih kemenangan pada Piala Dunia 2026, yang mempertemukan 48 tim, di mana Amerika Serikat (AS), Meksiko, dan Kanada sebagai tuan rumah bersama.
Di antara ketiga negara itu, tidak ada satu pun dari tim-tim itu mencapai babak perempat final.
“Kita perlu melewati rintangan berikutnya. Mencoba bersaing dan mengalahkan tim terbaik dunia, itulah langkah kita selanjutnya… Masih ada langkah lain yang harus kita ambil,” kata bintang sepak bola AS, Christian Pulisic dalam sebuah wawancara televisi setelah AS disingkirkan Belgia di babak 16 besar. Kekalahan telak 4-1 yang menunjukkan betapa jauhnya perjalanan Amerika Utara masih harus ditempuh.
Ketiga tuan rumah semuanya lolos dari babak penyisihan grup dan babak 32 besar dengan mudah. AS, Meksiko, dan Kanada memiliki rekor gabungan 9-2-1 dalam pertandingan-pertandingan tersebut, mengungguli lawan dengan total 20 gol. Segalanya tampak menjanjikan, setidaknya.
Sebagian orang mungkin melihat komposisi ini sebagai bukti bahwa persaingan sepak bola dunia semakin tidak seimbang. Namun, kenyataannya justru sebaliknya. Dominasi Eropa bukanlah sebuah anomali, melainkan konsekuensi logis dari investasi jangka panjang yang dilakukan selama puluhan tahun.
Negara-negara Eropa membangun sepak bola bukan hanya untuk memenangkan turnamen empat tahunan. Mereka membangun sistem. Akademi pemain, pembinaan usia dini, pendidikan pelatih, ilmu olahraga, analisis data, hingga kompetisi domestik yang sehat menjadi fondasi yang terus menghasilkan pemain berkualitas.
Hasilnya, ketika Piala Dunia memasuki fase-fase krusial, negara-negara Eropa hampir selalu memiliki kedalaman skuad dan kualitas permainan yang lebih stabil dibanding kawasan lain.
Kehadiran enam tim Eropa di babak perempat final bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Justru inilah gambaran nyata bahwa sepak bola modern semakin ditentukan oleh kualitas sistem, bukan sekadar bakat individu.

Dua Kisah Menarik
Di tengah dominasi tersebut, ada dua kisah yang menarik perhatian dunia.
Yang pertama adalah Argentina, yang mewakili Amerika Selatan. Kehadiran bintang sepak bola dunia, Lionel Messi yang menjadikan setiap pertandingan memiliki dimensi emosional tersendiri. Di penghujung kariernya, Messi tetap mampu membawa Argentina bersaing dengan negara-negara terbaik dunia.
Ini menunjukkan bahwa pemain hebat memang dapat mengubah jalannya pertandingan, tetapi bahkan seorang Messi tetap membutuhkan organisasi tim yang solid untuk terus melaju.
Kisah kedua adalah Maroko. Keberhasilan Maroko bukan lagi dapat disebut sebagai kejutan. Setelah mencetak sejarah pada Piala Dunia 2022, Maroko kembali membuktikan bahwa sepak bola Afrika telah memasuki babak baru.
Pemain Maroko bermain disiplin, terorganisasi, dan memiliki kualitas individu yang mampu bersaing dengan tim-tim elite Eropa. Maroko telah mengubah cara dunia memandang sepak bola Afrika, bukan lagi sekadar peserta, melainkan penantang serius.
Sebaliknya, absennya Brasil di babak delapan besar menjadi pengingat bahwa nama besar tidak menjamin keberhasilan. Tradisi dan sejarah memang penting, tetapi dalam sepak bola modern keduanya harus ditopang oleh regenerasi, inovasi, dan kemampuan beradaptasi. Hal yang sama juga berlaku bagi kawasan lain yang gagal menempatkan lebih banyak wakilnya di fase akhir turnamen.
Dominasi Eropa
Perempat final Piala Dunia 2026 akhirnya menyampaikan pesan yang jelas bahwa dominasi Eropa masih menjadi kenyataan, tetapi bukan berarti tidak dapat ditantang.
Argentina menunjukkan bahwa Amerika Selatan masih memiliki kekuatan besar. Maroko membuktikan bahwa Afrika mampu bersaing di level tertinggi. Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah Eropa akan tetap mendominasi, melainkan siapa yang mampu mematahkan dominasi tersebut.
Sepak bola modern semakin menegaskan bahwa kemenangan bukan hanya milik mereka yang memiliki sejarah besar, tetapi milik mereka yang mampu membangun sistem terbaik. Pada akhirnya, Piala Dunia selalu menjadi panggung bagi negara yang paling siap, bukan sekadar yang paling terkenal.
“Bukan hal mudah untuk bangkit dari ketertinggalan 2-0 di pertandingan babak gugur Piala Dunia 2026, terutama mengingat bagaimana jalannya pertandingan saat ini, di mana tidak ada yang memberikan Anda sesuatu secara cuma-cuma. Tapi syukurlah, kami berhasil melakukannya sekali lagi,” kata Kapten Timnas Argentina Lionel Messi. (Associated Press/Reuters/nov)


