BRIEF.ID – Selama hampir satu abad, gelaran babak final Piala Dunia memiliki tradisi yang sederhana namun sakral. Seluruh perhatian dunia tertuju pada pertandingan selama 90 menit atau lebih jika diperlukan, untuk menentukan siapa yang layak menyandang gelar predikat juara dunia.
Tidak pernah ada jeda panjang yang dipenuhi konser musik. Tidak ada panggung megah di tengah lapangan. Sepak bola selalu menjadi pusat seluruh pertunjukan.
Kini, Piala Dunia 2026 menandai sebuah perubahan besar. Untuk pertama kali dalam sejarah, FIFA menghadirkan pertunjukan paruh waktu pada pertandingan final turnamen. Deretan nama besar seperti Madonna, Shakira, BTS, dan Justin Bieber dijadwalkan tampil di hadapan puluhan ribu penonton di stadion dan miliaran pemirsa di seluruh dunia.
Justin Bieber akan menampilkan gayanya di panggung pertunjukan paruh waktu Piala Dunia 2026, yang bertabur bintang. Layaknya turnamen Super Bowl, Bieber akan bergabung dengan bintang-bintang lainnya seperti Madonna, Shakira, dan BTS, demikian diumumkan FIFA, pada Rabu (8/7/2026).
Dikutip dari Associated Press, Kamis (9/7/2026), bintang Afrobeats Burna Boy, konduktor Venezuela Gustavo Dudamel, dan Paduan Suara PS22 — paduan suara siswa sekolah dasar yang berbasis di Staten Island, New York, juga akan tampil, yang terakhir bergabung dengan Coldplay.
Pertunjukan paruh waktu selama 11 menit, yang dikuratori Chris Martin dari Coldplay, akan berlangsung selama final di luar New York, pada 19 Juli 2026. Pertunjukan ini akan mendukung Dana Pendidikan Warga Global FIFA, yang mengumpulkan US$ 100 juta untuk membantu anak-anak mengakses pendidikan dan sepak bola.
“Piala Dunia FIFA menyatukan dunia dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh hal lain. Saya bersyukur dapat menjadi bagian dari Pertunjukan Paruh Waktu ini, dan bahkan lebih bersyukur mengetahui bahwa ini telah membantu memperluas akses pendidikan bagi anak-anak di seluruh dunia,” kata Bieber dalam sebuah pernyataan
Langkah ini bukan sekadar menghadirkan hiburan tambahan. Ini adalah simbol perubahan arah dalam cara FIFA memandang produk bernama Piala Dunia.

Peristiwa Budaya Global
Inspirasi perubahan tampak jelas. Selama bertahun-tahun, Super Bowl di Amerika Serikat berhasil menjadikan pertunjukan paruh waktu sebagai peristiwa budaya global. Jutaan orang yang mungkin tidak mengikuti pertandingan American football tetap menyaksikan acara tersebut karena ingin melihat penampilan para musisi papan atas. Nilai komersialnya juga melonjak, menarik sponsor, pengiklan, dan perhatian media dari seluruh dunia.
FIFA tampaknya ingin menciptakan efek serupa. Dengan jangkauan penonton yang melampaui Super Bowl, Piala Dunia 2026 diposisikan sebagai panggung hiburan terbesar di dunia. Sepak bola tetap menjadi inti acara, tetapi musik, budaya populer, dan industri hiburan menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan kepada penonton global.
Dari sudut pandang bisnis, keputusan ini dapat dipahami. Dunia olahraga modern tidak lagi hanya menjual pertandingan, tetapi juga pengalaman. Persaingan untuk menarik perhatian publik semakin ketat di era media digital, ketika berbagai bentuk hiburan berlomba mendapatkan waktu dan perhatian audiens.
Menghadirkan artis-artis kelas dunia menjadi strategi untuk memperluas daya tarik Piala Dunia, menjangkau generasi muda, dan membuka peluang komersial yang lebih besar.
Namun, setiap perubahan membawa konsekuensi. Sebagian penggemar menyambut inovasi ini sebagai langkah yang menyegarkan. Mereka melihat pertunjukan paruh waktu sebagai cara memperkaya pengalaman menonton tanpa mengurangi kualitas pertandingan.
Di sisi lain, banyak pecinta sepak bola mempertanyakan apakah final Piala Dunia perlu mengikuti jejak Super Bowl? Kekhawatiran mereka sederhana, jangan sampai pertandingan terbesar dalam sepak bola justru kehilangan identitasnya karena terlalu menonjolkan aspek hiburan.
Karakter Berbeda
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Piala Dunia selama ini memiliki karakter yang berbeda. Emosi, drama, dan sejarah dibangun oleh permainan di lapangan, bukan oleh kemegahan panggung hiburan. Jika unsur hiburan semakin mendominasi, batas antara olahraga dan industri pertunjukan bisa menjadi semakin kabur.
Perubahan tampaknya tidak dapat dihindari. Sepak bola telah berkembang menjadi industri global bernilai miliaran dolar. Hak siar, sponsor, platform digital, media sosial, dan hiburan kini saling terkait dalam membentuk wajah olahraga modern. FIFA pun dituntut untuk terus berinovasi agar Piala Dunia tetap relevan bagi generasi baru tanpa kehilangan daya tariknya.
Ukuran keberhasilan pertunjukan paruh waktu nanti bukan semata-mata diukur dari kemegahan panggung atau jumlah artis yang tampil. Tolok ukurnya adalah apakah inovasi tersebut mampu memperkaya pengalaman penonton tanpa mengurangi makna pertandingan yang menjadi inti Piala Dunia.
Final Piala Dunia 2026 diyakini akan menjadi lebih dari sekadar laga penentuan juara dunia. Turnamen ini akan menjadi ujian bagi FIFA, mampukah menyatukan olahraga dan hiburan dalam satu panggung, tanpa mengorbankan nilai-nilai yang telah menjadikan Piala Dunia sebagai ajang sepak bola paling bergengsi di planet ini.
Sepak bola adalah bahasa universal. Orang-orang di pelosok dunia rela begadang bukan untuk menonton konser, melainkan untuk menyaksikan sejarah tercipta di lapangan hijau. Mereka mengingat gol-gol legendaris, penyelamatan gemilang, dan trofi yang diangkat sang juara, bukan siapa yang tampil di sela pertandingan.
Tentu, FIFA memiliki alasan yang masuk akal. Industri olahraga telah berubah. Persaingan memperebutkan perhatian publik semakin ketat. Hak siar, sponsor, platform digital, dan industri hiburan kini saling terhubung. Menambahkan unsur hiburan dipandang sebagai strategi memperluas pasar dan menarik generasi baru. (nov)


